Oleh:Ali Rama
TRADISI ritual peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw yang dikenal
dengan Maulid Nabi sudah menjadi budaya keagamaan di kalangan masyarakat
Indonesia. Bahkan Maulid Nabi sudah dijadikan sebagai hari besar di
negeri ini, yang berarti adalah hari libur nasional.
Kelahiran Nabi saw sebenarnya tidak termasuk hari besar jika dilihat
dari pandangan al-Qur’an dan al-Hadist. Namun, biasanya, peringatan
Maulid Nabi dimaksudkan sebagai momentum untuk mempelajari dan merenungi
kembali perjalanan hidup beliau sebagai seorang Rasul sekaligus sebagai
manusia biasa yang sukses dalam berbagai sisi kehidupan.
Rasulullah adalah potret pribadi sukses dalam menjalani kehidupan yang harus menjadi panutan bagi umat manusia.
Sirah Nabi adalah living model yang diinginkan Allah untuk
diimplementasikan oleh tiap pribadi muslim sejati. Jadi perayaan Maulid
Nabi bukan sekedar kegembiraan atas kehadiran beliau dalam sejarah tapi
yang lebih penting dari semua itu adalah bagaimana memahami perjalanan
hidup beliau secara utuh, sempurna dan menyeluruh sehingga menjadi
panutan dalam membangun peradaban umat manusia.
Muhammad sebagai pemimpin bisnis dan entrepreunership dijelaskan secara gamblang di dalam buku Dr. Syafi’i Antonio dengan judul “Muhammad SAW Super Leader Super Manager”. Buku tersebut menguraikan bahwa masa berbisnis Muhammad yang mulai dengan intership (magang), business manager, investment manager, business owner dan berakhir sebagai investor
relative lebih lama (25 tahun) dibandingkan dengan masa kenabiannya (23
tahun). Nabi Muhammad bukan hanya figur yang mendakwakan pentingnya
etika dalam berbisnis tapi juga terjun langsung dalam aktifitas bisnis.
Sang manager
Sejak kecil tepatnya saat berumur 12 tahun, Muhammad sudah diperkenalkan tentang bisnis oleh pamannya, Abu Thalib, dengan cara diikutsertakan dalam perjalanan bisnis ke Syam (Suriah).
Pengalaman perdagangan (magang) yang diperoleh Muhammad dari pamannya
selama beberapa tahun manjadi modal dasar baginya disaat memutuskan
untuk menjadi pengusaha muda di Mekah. Beliau merintis usahanya dengan
berdagang kecil-kecilan di sekitar Ka’bah.
Dengan modal pengalaman yang ada disertai kejujuran dalam menjalankan
usaha bisnisnya, nama Muhammad mulai dikenal dikalangan pelaku bisnis (investor) di Mekah.
Dalam kurung waktu yang tidak cukup lama, Muhammad mulai menampakkan
kelihaiannya dalam menjalankan usaha perdagangan bahkan beberapa investor Mekah tertarik untuk mempercayakan modalnya untuk dikelolah oleh Muhammad dengan prinsip bagi hasil (musyarakah-mudharabah) maupun penggajian. Pada tahapan ini Muhammad telah beralih dari business manager (mengelola usahanya sendiri) menjadi investment manager (mengelola modal investor).
Dengan modal yang sudah relatif besar, Muhammad memiliki kesempatan
untuk ekspansi bisnis untuk menjangkau pusat perdagangan yang ada di
Jazirah Arab. Kejujuran beliau dalam berbisnis sehingga dikenal olah
para pelaku bisnis sebagai Al-Amin menjadi daya tarik bagi kalangan investor besar untuk menginvestasikan modalnya kepada Muhammad, salah satu di antaranya adalah Siti Khadijah yang di kemudian hari menjadi Istri pertama beliau.
Di usia 25 tahun, usia yang masih rekatif mudah, Muhammad menikah dengan Khadijah,
seorang pengusaha sukses Mekah. Secara otomatis Muhammad menjadi
pemilik sekaligus pengelola dari kekayaan Khadijah. Penggabungan dua
kekayaan melalui pernikahan tersebut tentunya semakin menambah usaha
perdagangan mereka baik secara modal maupun penguasaan pangsa pasar.
Pada tahapan ini Muhammad sudah menjadi business owner.
Setelah Muhammad menikah dengan Khadijah, beliau semakin gencar mengembangkan bisnisnya melalui dengan ekspedisi bisnis
secara rutin di pusat-pusat perdagangan yang ada di jazirah Arab,
beliau intens mengunjungi pasar-pasar regional maupun Internasional demi
mempertahankan pelanggan dan mitra bisnisnya. Jaringan perdagangan beliau telah mencapai Yaman, Suriah, Busra, Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Arab lainnya.
Saat menjelang masa kenabian (berumur 38 tahun) di mana waktunya
banyak dihabiskan untuk merenung beliau telah sukses menjadi pedagang
regional dimana wilayah perdagangannya meliputi Yaman, Suriah, Busra,
Iraq, Yordania, Bahrain dan kota-kota perdagangan Jazirah Arab lainnya.
Pada tahapan in beliau telah memasuki fase yang menurut Robert T Kiyosaki disebut financial freedom.
Kehebatan berbisnis Muhammad bisa dilihat dalam sebuah riwayat yang
menceritakan bahwa beliau pernah menerima utusan dari Bahrain, Muhammad
menanyakan kepada Al-Ashajj berbagai hal dan orang-orang yang
terkemuka serta kota-kota yang terkemuka di Bahrain. Pemimpin kabilah
tersebut sangat terkejut atas luasnya pengetahuan geografis serta sentral-sentral komersial Muhammad. Kemudian al-Ashajj berkata: “sungguh
Anda lebih mengetahu tentang negeri saya daripada saya sendiri dan anda
pula lebih banyak mengetahui pusat-pusat bisnis kota saya dibanding apa
yang saya ketahu”. Muhammad menjawab: “saya telah diberi kesempatan untuk menjelajahi negeri anda dan saya telah melakukannya dengan baik.” (Syafi’i Antonio, 2007).
Demikianlah perjalanan sukses bisnis Muhammad sebelum resmi menjadi
seorang Nabi yang jarang disampaikan kepada generasi-generasi muda di
saat perayaan Maulid Nabi. Pemahaman yang utuh tentang biography kehidupan beliau akan menghindarkan terjadinya pemahaman yang sempit tentang diri Rasulullah. Banyak
orang yang mengaggap Rasulullah saw sebagai orang yang miskin padahal
justru sebaliknya beliau adalah sosok pebisnis yang sukses.
Melalui momentum Maulid Nabi ini kiranya perlu mengangkat tema
kesuksesan Muhammad sebagai pelaku bisnis demi memacu munculnya
pengusaha-pengusaha muda di kalangan Muslim. Sebenarnya negeri ini
memiliki tokoh-tokoh agama sekaligus pengusaha sukses, sebut saja
misalnya, tokoh nasional K.H. Ahmad Dahlan dengan usaha batiknya. Bahkan dalam sejarah gerakan kemerdekaan Indonesia kita mengenal tokoh-tokoh agama yang terhimpun dalam Syarikat Dagang Indonesia.
Sebagaimana kita ketahui jumlah wirausahawan di Indonesia masih
relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara maju di dunia. Dari
total penduduk Indonesia, 231, 83 juta jiwa hanya sekitar 2 persen saja
yang berwirausaha atau sebesar 4, 6 juta. Tentunya jumlah ini sangat
kecil sekali jika negeri ini menginginkan penduduknya untuk semakin kuat
dan mandiri secara ekonomi.
Negara-negara maju relative memiliki persentasi wirausahawan yang relatif tinggi dari jumlah penduduknya. Persentase penduduk Singapura yang berwirausaha mencapai 7 persen, China dan Jepang 10 persen dari total jumlah penduduk mereka. Sedangkan yang tertinggi adalah Amerika Serikat sebesar 11,5-12 persen.
Melalui perayaan Maulid Nabi ini, kita perlu mengkampanyeka pentingnya berwirausaha seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan umat yaitu kemiskinan dan pengangguran.
Melalui perayaan Maulid Nabi ini, kita perlu mengkampanyeka pentingnya berwirausaha seperti apa yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai solusi untuk menyelesaikan persoalan umat yaitu kemiskinan dan pengangguran.
*Ali Rama, Peneliti ISEFID (Islamic Economic Forum for Indonesia Development)
sumber:
http://hidayatullah.com
http://www.syafiiantonio.com
http://leadershipmuhammad.webs.com/
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !