Catatanku: Topik Pilihan
Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Topik Pilihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Topik Pilihan. Tampilkan semua postingan

PKS Kesulitan Jaring Caleg

Written By Harmoko, A.Md on Selasa, 09 April 2013 | 22.32



Saat partai lain sibuk membuka meja pendaftaran dalam rangka menjaring para bakal caleg untuk  diikut sertakan pada kompetisi pemilihan umum 2014, banyak kalangan berduyun-duyun mengajukan (mendaftarkan diri ) sebagai caleg, bahkan tidak segan walaupun harus mengeruk kocek cukup dalam. Hal ini ternyata tidak berlaku bagi pencalegan PKS loh, di saat yang lain bersikap demikian, di PKS malah berlaku sebaliknya. Kesulitan itu terjadi ketika sekian banyak para kader menolak ditunjuk untuk maju pada kompetisi 5 tahunan sekali ini. Penulis pun adalah salah satu saksi hidup proses recruitmen pencalegan itu.

Penolakan ini bukan karena para kader tak mampu atau kapasitas kader PKS tak layak loh, bayangkan para pengamat sendiri mengamini bahwa PKS adalah satu-satunya partai yang kaya dengan Intelektual dan professional muda berkualitas, serta paling siap menyambut kemenangan pada kompetisi pemilu 2014. Jadi perlu digaris bawahi BUKAN KARENA PKS MISKIN KADER BERKUALITAS, namun lebih kepada tugas anggota dewan adalah amanah berat yang dibebankan kepada para kader maka mereka memilih menolak. Saat tulisan ini dibuat, nama-nama yang telah tercantum pada DCS (Daftar Caleg Sementara) berulang kali menyampaikan permohonan  maaf agar tidak dimajukan baik disampaikan secara lisan maupun SMS karena takut tidak bisa menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Tapi bagaimanapun ini adalah amanah, ketika para qiyadah mengusulkan nama kader untuk maju, itu menandakan bahwa mereka dilihat paling layak berjuang di tingkat legislator.

Beberapa orang saudara bertanya kepada penulis tentang pencalegan 2014, mengingat mereka tahu bahwa penulis merupakan salah satu pengurus PKS di tingkat DPC. Mereka heran kenapa penulis tak ikut maju seperti parpol lain yang berbondong- bondong mendaftarkan diri, padahal penulis juga adalah pengurus aktif. Penulis tersenyum saja, Inilah bedanya PKS dengan parpol lain, mekanisme penjaringan caleg PKS sangat jauh dari unsur KKN seperti partai kebanyakan. Menjadi caleg bukanlah kebanggan atau barang mewah tapi menjadi kabar yang tidak sedap untuk kader, saya yakin hal ini tidak pernah terjadi di parpol lain. Karena setiap kader dibebankan amanah masing-masing, baik ditingkat struktur maupun dalam posisinya sebagai seorang legislator, semuanya memegang peran penting masing-masing untuk kemaslahatan dakwah Islam demi terwujud masyarakat berkeadilan.

Sepanjang yang penulis alami, ada banyak sekali kalangan eksternal yang melamarkan diri untuk dimajukan sebagai caleg 2014 lewat PKS Banyuasin, tapi PKS memegang teguh semangat perbaikan dan perubahan sehingga selalu melihat rekam jejak (track record) dan pendapat jama’ah bagi sang pelamar sehingga tidak sembarang terima, maka siapa saja yang ditunjuk oleh jama’ah dalam mekanisme suro itu’, artinya mereka dipercaya oleh jama’ah untuk mengemban amanah yang lebih besar, bukan itu saja jama’ah akan all out mendukung (memperjuangkan) kader atau siapa saja yang diamanahi tugas ini untuk bisa memenangkan kompetisi. Ini merupakan bagian dari tradisi PKS menghindari anggota dewan yang bermain ketika mereka resmi memangku jabatan nanti. Sudah sedimikin ketat saja prosesnya terkadang masih saja kecolongan (maklum manusia, tapi alhamdulillah sampai saat ini setiap kader yang ketahuan menyalahgunakan jabatan akan gampang sekali diturunkan bahkan dikeluarkan), apalagi jika proses itu seperti parpol tetangga, yang untuk menjadi Bacaleg saja harus sikut-sikutan sesama kader mereka (baca : saling semebelih), wajar jika aroma KKN itu akan sangat kental, bukan itu saja disamping faktor duit, faktor kedekatan dengan pejabat tinggi di parpolnya atau keluarga pun menjadi hal yang tidak bisa dipungkiri saat recruitmen caleg (ini juga diamini oleh caleg bersangkutan)

Rangkap Jabatan
Saat qiyadah mengumumkan bahwa para kader dilarang rangkap jabatan, suami atau istri pejabat publik tidak mencalonkan diri sebagai anggota dewan, bagi para kader hal ini tidak begitu mengagetkan mengingat hal itu sudah menjadi tradisi turun temurun di PKS untuk tidak rangkap jabatan sehingga roda organisasi dapat bekerja secara optimal dalam menangkap pesan dari lapisan paling bawah masyarakat Indonesia. Tentu budaya baik yang turun temurun ini perlu diwariskan ke partai politik lainnya, insyaAllah ini juga adalah dakwah.

Bercermin ke dakwah terdahulu
Bercermin dari kisah-kisah perjuangan Rosulullah. Penulis mengamini, sungguh dahsyat dakwah Islam di Parlemen. Dakwah di masjid ke Masjid itu biasa, maka akan dahsyat sekali powernya ketika dakwah Islam itu berwujud parlemen, pemerintahan atau bahkan negara. Ingat bagaimana proses dakwah Rosulullah dari fase sirriyah (senyap) kepada fase dakwah dhahirriyah (terang-terangan). Sejak itu pula panji daulah Islam dikibarkan setinggi-tingginya, ummat keluar dari masa keterindasan kepada masa kegemilangan tanpa penjajahan keyakinan sebab semua hidup berdampingan dan memegang hak untuk hidup dengan keyakinannya masing-masing.
Sejak dakwah Islam dilakukan secara terang-terangan, tak pernah sekalipun Ummat ini hidup tanpa daulah Islam, melainkan mereka menjelma menjadi sebuah pemerintahan yang membebaskan manusia dari perbudakan yang telah lama berkuasa apapun keyakinannya.

KPK Terus Telusuri Keterlibatan Alex Noerdin dalam Kasus Korupsi Wisma Atlet

Written By Harmoko, A.Md on Senin, 18 Maret 2013 | 02.05


 

JAKARTA, Buanasumsel.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan terus mengembangkan kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa pada pembangunan Wisma Atlet, Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan.

Sementara berperan sebagai penanggungjawab proyek pembangunan itu adalah Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noerdin.

Menurut Juru Bicara KPK Johan Budi, tidak menutup kemungkinan pihaknya menetapkan tersangka baru. Pasalnya saat ini pengadaan barang dan jasa itu sudah di level penyelidikan. “Sampai saat ini hal itu masih terus diselidiki,” kata Johan di kantor KPK, Jakarta, Rabu (13/3/2013).

Saat ditanya peluang Alex jadi tersangka, Johan menolak komentar. Yang pasti terang Johan status Alex masih sebagai saksi pada kasus tersebut. Seperti diketahui berdasarkan fakta persidangan, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin tidak hanya disebut menerima fee 2,5 persen dari Rp 191 Miliar pada proyek Wisma Atlet SEA Games Palembang.

Anak buah Abu Rizal Bakrie di Partai Golkar itu juga dituding mengubah design proyek dari rencana semula yang mengakibatkan pergeseran spesifikasi bangunan dan anggaran. Namun, hal itu telah dibantah oleh Alex Noerdin saat dikonfirmasi dalam berbagai kesempatan. (Tribunnews.com)

http://buanasumsel.com/kpk-terus-telusuri-keterlibatan-alex-noerdin-dalam-kasus-korupsi-wisma-atlet/

Larang Rok Mini, Presiden Korea Selatan Keluarkan Dekrit

Written By Harmoko, A.Md on Minggu, 17 Maret 2013 | 20.52

Bersama Dakwa | Presiden Korea Selatan (Korsel) Park Geun-Hye mengeluarkan kebijakan baru larangan memakai rok mini di tempat umum. Larangan itu dituangkan dalam bentuk dekrit, di tengah ketegangan dengan Korea Utara (Korut) yang memerbolehkan perempuan memakai rok mini.

Larangan pemakaian rok mini itu akan diberlakukan mulai 22 Maret mendatang. Setiap warga yang terbukti memakai rok mini di tempat umum, bisa dikenakan denda 50 ribu Won atau sekitar Rp 441 ribu.

Rapat kabinet untuk membahas larangan rok mini dipimpin langsung Park, presiden perempuan pertama Korsel. Sebelumnya, dekrit serupa pernah berlaku di Korsel pada dekade 1970-an pada saat ayah Park, Jenderal Park Chung-hee berkuasa.

Sementara itu, Korut menganggap kebijakan baru Park tersebut hanya sebuah lelucon. Menurut laporan New York Times, rok mini yang dikenakan perempuan Korut jauh lebih pendek ketimbang rok mini perempuan Korsel.

Tidak peduli dengan sindiran Korut, Park tetap melanjutkan perang rok mini sembari akan terus melunakkan hati Pyongyang dengan mengirimkan bantuan kemanusiaan. Park ingin menjadikan bantuan kemanusiaan sebagai penghubung antara Seoul dengan Pyongyang.

“Kami ingin memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga Utara yang memang kesulitan. Kami tidak peduli dengan sindiran dari Korea Utara dan semua provokasinya. Kami hanya ingin memastikan bisa melaksanakan dialog untuk memperbaiki hubungan utara dan Selatan,” kata Menteri Unifikasi Ryoo Kihl-jae, Rabu (13/3) lalu. [IK/Rmol/Dkw]

http://www.bersamadakwah.com/2013/03/larang-rok-mini-presiden-korea-selatan.html

Dua Kekalahan dan Pertaruhan Moral Kader PDIP

Written By Harmoko, A.Md on Kamis, 07 Maret 2013 | 06.34

PDI Perjuangan (PDIP) ternyata tak cukup mampu merawat tren positif terhadap kemenangan Jokowi di Jakarta. Terbukti setelah kemenangan di Jakarta, PDIP berturut-turut kalah di pilgub Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut). Saya tidak memasukkan kemenangan kandidat yang didukung PDIP di Sulawesi Selatan, karena tak ada kader PDIP yang maju di sana.

Berbeda di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Dalam pilgub Jabar, PDIP mengusung kadernya sendiri yaitu Rieke Diah Pitaloka yang dipasangkan dengan Teten Masduki. Pasangan ini memperoleh hasil yang cukup cemerlang karena mampu mengalahkan Dede Yusuf yang dalam survey-survey sebelumnya unggul terhadap Rieke. Dalam pilgub Jabar sosok Jokowi juga dimanfaatkan oleh PDIP untuk mendongkrak suara Rieke.

Dalam pilgub Sumut yang berlangsung hari ini, PDIP mengusung Effendi Simbolon sebagai Cagub. Fenomena yang terjadi di Jawa Barat juga muncul di sini. Dalam berbagai rilis quick count Effendi Simbolon mampu memperoleh posisi kedua dalam perolehan suara menggeser Gus Irawan yang dalam survey sebelumnya memperoleh posisi kedua. Jokowi dalam pilgub Sumut juga dihadirkan sebagai juru kampanye Effendi Simbolon.

Dua kekalahan beruntun ini seolah menodai prestasi besar PDIP memenangkan Jokowi di Jakarta. Tak hanya itu, kekalahan ini juga sedikit mempengaruhi ‘daya magis’ Jokowi karena kandidat yang didukungnya tak dapat memenangi kontestasi pilgub. Padahal kemenangan di Jakarta membawa daya dukung moral yang sangat besar kepada kader-simpatisan PDIP di daerah-daerah. Ibarat sebuah mesin, kemenangan PDIP dengan Jokowinya membuat mesin partai menjadi sangat panas, dan siap untuk segera dipacu mengarungi tahun politik ini. Namun kekalahan di dua pilgub ini menurut saya cukup dapat menggoncang kader yang menjadi mesin politik PDIP.

Ditambah lagi pilgub Jawa Tengah (Jateng) yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat akan sangat mempengaruhi moral kader PDIP. Seperti yang kita tahu, PDIP memiliki basis massa yang sangat kuat di Jateng. Sehingga PDIP tak punya pilihan lain untuk menjaga moral kader-kadernya selain menang di kandang sendiri. Kekalahan PDIP di Jateng akan menimbulkan pukulan yang besar bagi kader. Selain karena kalah tiga kali berturut-turut, PDIP juga kalah di kandang sendiri.

Bisakah PDIP menjaga suara di kandangnya sendiri? Manuver politik di detik-detik akhir menurut saya membuat PDIP harus bekerja keras karena ketiga pasangan kandidat cagub-cawagub Jateng ini sama-sama memiliki warna ‘merah’. Disamping Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko yang diusung PDIP, Bibit Waluyo (petahana), dan Don Murdono (cawagub dari Hadi Prabowo), sama-sama memiliki masa lalu di PDIP. Apalagi tidak dimajukannya Rustriningsih yang sebelumnya dijagokan akan diusung PDIP memiliki efek tersendiri bagi pemilih PDIP di Jateng. Selain itu, hadirnya Hadi Prabowo-Don Murdono akan menguntungkan petahana Bibit Waluyo karena dapat memecah suara pemilih yang tidak menyukai Bibit Waluyo.

Pilgub Jateng akan menjadi pertaruhan yang sangat besar bagi PDIP untuk menjaga semangat dan moral para kadernya menghadapi 2014. Tiga kali kekalahan dan kalah di kandang sendiri akan sangat memukul mental kader. Jika dibandingkan dengan partai lain, sebenarnya hal ini juga melanda dua partai besar Demokrat dan Golkar. Calon yang diusung dua partai ini juga menderita kekalahan. Hanya PKS saja untuk saat ini yang memiliki tren positif. Setelah menerima pukulan telak, kader PKS mampu diobati dengan dua kemenangan beruntun di Jabar dan Sumut.

Biar waktu yang menjawab, apakah PDIP mampu membangkitkan moral kadernya, atau malah akan menerima pukulan yang sangat telak di kandang sendiri.

Ketua KAMMI : Ada Ketidakjujuran dalam Tubuh KPK

Written By Harmoko, A.Md on Minggu, 24 Februari 2013 | 08.28


Islamedia - Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) menilai KPK sebagai pembohong dalam menuntaskan kasus korupsi. Lembaga anti korupsi itu juga dinilai tidak bersih dan penuh intervensi kepentingan politik tertentu.

“Ada ketidakjujuran dalam tubuh KPK dalam menuntaskan kasus korupsi. Selama ini KPK menjadi kepanjangan tangan pihak-pihak tertentu. Ini berbahaya !!! ” tegas Ketua Umum PP KAMMI, Muhammad Ilyas di Jakarta, Sabtu (23/12)

Ilyas menilai, KPK banyak melakukan pembohongan kepada masyarakat. Dalam menetapkan tersangka, KPK lebih mencerminkan aspek politis dibandingkan hukum sehingga mencederai rasa keadilan masyarakat.

“KPK sebaiknya jujur kepada masyarakat Indonesia. Sebab bagaimanapun, Anas Urbaningrum maupun Luthfi Hasan adalah korban ketidakjujuran KPK, “
tegasnya

Seperti diketahui selama tahun 2013, KPK sudah menetapkan dua pimpinan parpol yakni Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan mantan Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq sebagai tersangka. Anas terjerat kasus korupsi Hambalang, sedangkan Luthfi tersandung kasus korupsi impor daging sapi.[kammi]

"Kilas Balik Operasi Intelijen Barat & Timur Di Indonesia" by @RidlwanJogja

Written By Harmoko, A.Md on Selasa, 05 Februari 2013 | 08.08

Ridlwan 
@ridlwanjogja

Mohon izin para senior, saya mau ngelantur soal #intel sembari nunggu acara di kemhan nih
1.Kita apresiasi Pangkohanudnas yg sergap Cessna asing berpilot AS di Balikpapan kemarin. #intel

2.Walau belum pasti pilot itu bawa data rahasia, itu bukti upaya kontra intel ind berjalan , tak hanya di udara tp juga di darat #intel

3. Hampir semua kedutaan asing di jakarta mempunyai pejabat #intel dan mereka beroperasi 24 jam.

4. Ini 1 Oktober, ingat dokumen Gilrichst kan ? Yg ternyata dibuat #intel Ceko

5. Dok Gilrichst tiba2 dikirim org tak dikenal ke rumah Subandrio ketua Badan Pusat #intel

6. Inti dok Gilrichst adalah seolah-olah ada dukungan Inggris dan AS pada AD. #intel

7. Pada 26 mei 65 dok itu sampai ke sukarno , marah, jendral yani dipanggil #intel

8. Banyak kesalahan dlm dok palsu itu diantarannya penulisan Jakarta, harusnya Djakarta #intel

9. Cerita soal Gilrichst ini asyik dan menarik didiskusikan secara khusus kapan2 #intel

10. Yg jelas operasi #intel asing di RI berlangsung sejak republik berdiri.

11. Era Orba, Suharto lewat Benny di Kopkamtib dan Yoga Soegama Bakin punya Satsus #intel, ini unit kontra penangkap mata2 asing.

12.Cerita2 ops satsus intel bs kita baca dengan data lengkap di buku Ken Conboy #intel

13. Siapa Ken ? Alumni George Washington Univ yg beroperasi di RI sejak 92 #intel

14. Ken masih "muda", istrinya org Solo, bisa bahasa jawa halus #intel

15.Ken sabuk hitam kyokushinkai, kalau ngajar nggak boleh dipotret, direkam, atau dicatat #intel

16.Ini cuplikan buku ken, setelah 66, PKI bubar, tapi Soviet tetap gencar melakukan operasi #intel di Indonesia

17.Oleh satsus Intel #intel Soviet itu diberi sandi Gatot (buku Ken halaman 95)

18.Mereka merekrut agen di RI dg beragam cara, misalnya nabrak mobil perwira TNI di jalanan #intel

19.Turun, minta maaf, tukar kartu nama, janjian makan malam, rekrut. #intel

20.Banyak #intel Soviet yg ceroboh, yg berhasil diungkap satsus Intel

21.Misal Boris Liapine KGB dg kedok deputi atase budaya soviet, suka mabuk-mabukan. #intel

22.Di club 69 Menteng, dia mabuk berat, matikan rokok di atas piring raden mas dari kraton Solo yg juga sedang clubbing #intel

23.Boris nyaris habis dihajar pengawal RM ini, diselamatkan oleh satsus yg mengikutinya kemanapun. #intel

24.Ada juga Vladislav Romanov, atase politik, yg (maaf) hobi melacur dg selera gadis Chk. #intel

25.Dia berhasil memikat menantu pemilik restoran Jit Lok Sun yg terkenal di menteng. Selingkuh #intel

26.Satsus berhasil mengetahuinya, si wanita direkrut utk keruk info dari Romanov di atas ranjang. #intel

27.Ada juga Petrov, ahli bahasa Jowo suroboyoan yg disusupkan GRU (biro intel militer Soviet) dg kedok asisten atase angkatan laut #intel

28.Petrov merekrut Yamin, PNS sipil yg bekerja sebagai coordinator pelatihan Mabesal. #intel

29.Cara ketemunya di Senayan, dia akan parkir mobilnya, lalu Yamin pura2 lari pagi dan lempar datanya ke mobil yg kacanya terbuka. #intel

30.Atau istri Yamin akan pura2 jadi pelacur berdiri di pinggir jalan Blok M, petrov pura2 nawar, data diambil #intel ( buku Ken halaman99)

31.Petrov ini juga hobi mabuk judi, suatu ketika thn 72 dia loss control, kalah ratusan ribu di jalan Jaksa #intel

32.Putus asa, dalam kondisi mabuk, Petrov menawarkan diri ke Kedubes AS dg imbalan dollar, mobil Petrov nabrak terotoar, diantar . #intel

33.Begitu mabuknya hilang, Petrov sadar dirinya terancam, dia naik becak, minta suaka ke atase AL AS, dikabulkan #intel

34.Dia berhasil diloloskan CIA lewat Halim dan ditempatkan di Virginia dg sandi Houdini. #intel

35.Tapi karena dia tak kuat rindu keluarga, Houdini memohon ampun ke Soviet pada 79. Hingga kini nasibnya tak diketahui. #intel

36.Tapi yang paling melegenda adalah ops penangkapan letkol yohanes sudaryanto yg ternyata #intel Soviet

37.Berawal dari penyadapan telpon satsus #intel pada Pavlovich Finenko , stasiun manager Aeroflot maskapai penerbangan Rusia di JKT

38.Finenko menelpon Sudaryanto 26 januari 82, berhasil dilacak dan dilaporkan ke Yoga Soegama. #intel

39.Yoga meminta timnya utk kerjasama dg tim Benny dan ditugaskanlah gugus intelijen kopkamtib pimpinan Brigjen Sutaryo #intel

40.Operasi bersama satsus Intel itu disebut ops Pantai, ambil nama dari rumah Sudaryanto di Tanjung Priok. #intel

41.Sasaran : Letkol Johanes Sudaryanto, 48 tahun,pernah ikut training di AS 1963, tugas di Dinas Pemetaan AL, kantornya dkt ancol. #intel

42.Dari sadapan telpon, diketahui 4 Februari Sudaryanto harus ketemu kontaknya di restoran Jawa Tengah, menteng #intel

43.Paginya, Sudaryanto disergap. Dia langsung mengaku. Malamnya tetap harus jalan ke resto utk tangkap handlernya dari Soviet. #intel

44.Dia membawa dua rol film disembunyikan di kotak pasta gigi Pepsodent #intel

45.Komandan lapangan ops Pantai, Mayor Jacob Sutardi makan malam dg istri dan 3 anaknya di meja dekat sasaran. #intel

46.Rupanya yg temui Sudaryanto bukan Finenko tapi asisten atase militer Letkol Sergei Igorov sbg handler baru #intel

47.Istri Mayor Sutardi marah karena suaminya nggak konsen, rupanya si Mayor ini nunggu Igorov ambil pepsodent #intel

48.Tepat ketika pepsodent masuk tas, dia bangkit dan : Tangkap ! Istrinya kaget , Egorov dibekuk. #intel

49.Karena punya paspor diplomatik, Egorov dipulangkan 2 hari kemudian. Finenko (paspor sipil) coba ikut terbang. #intel

50.Namun dia berhasil diringkus di bandara, Finenko mogok makan dlm penahanan #intel

51.Oleh Orba, insiden ini di blow up, seminggu penuh kedutaan Soviet diduduki mahasiswa.#intel

52.Pada 13 Feb, Finenko dibebaskan dg barter berat : Aeroflot tutup operasi maskapai di Indonesia #intel

53.Sudaryanto rupanya telah terekrut sejak 1976 oleh seorang bernama Vladimir #intel

54.Selama bertahun2 itu , dia jual data2 penting Indonesia dg cara dead drop ataupun pertemuan langsung #intel

55.Sudaryanto punya lokasi dead drop di Pulo Mas dan Pluit, dibawah gardu listrik. #intel

56.Data itu misalnya hasil survey alur laut, ia akan pura2 pipis, sambil susupkan rol film dibungkus plastik dan bambu. #intel

57.Soviet juga membekali Sudaryanto dg radio Grundig pada siaran di jam tertentu ada instruksi rahasia lokasi ketemuan berikutnya. #intel

58.Singkatnya, Sudaryanto dihukum 10 tahun penjara pada 1984. Dia sekarang sudah meninggal #intel

59.Apa motif Sudaryanto ? Bukan uang, tapi ego dan keinginannya naik pangkat. #intel

60.Sebagai seorang katolik, dia merasa karirnya mentok di dinas pemetaan AL, dia dijanjikan akan diupayakan mutasi #intel

61.Memang , secara teori, ada 5 cara merekrut agen #intel utk membantu kita,

62.Teori ini yg disebut dengan teknik penggalangan MICE plus RC #intel

63.M adalah Money, ini klasik, orang pingin kaya, cara cepat jual data dan jadi #intel

64.I adalah ideology, misal sama-sama etnisnya, sama agamanya, dsb. #intel

65.C adalah compromise, karena pernah berbuat salah, orang mau jadi #intel utk tebus dosanya.

66.Misal , ada PNS di kementrian penting, dia korupsi, pihak asing tahu, dia dekati dan tawaran solusi. Jadi #intel

67.E adalah Ego, ini termasuk pangkat tadi. Dlm kasus Sudaryanto E ini motifnya. #intel

68.R adalah revenge, contoh orang2 Afghani yg dendam dg Taliban dan mau direkrut CIA. #intel

69.C adalah cara terjelek merekrut atau penggalangan. Coercion atau pemaksaan. #intel

70.Misal, tahun 66-70 ada anggota PKI, diancam, mau jadi #intel atau di Pulau Buru-kan.

71.Agen #intel yg didapat dengan cara Coercion ini infonya harus disaring tiga kali validitasnya.

72.Bagaimana dg #intel masa kini ? di era IT, di era cyber anonym ? tentu upaya kontra masih berjalan.

73.Satu yg sangat dicurigai sebagai agen #intel asing (CIA) adalah mbak Sidney Jones dari ICG

74.Sidney sudah masuk ke RI sejak 82, Irfan awwas MMI tahu gerak geriknya karena dia juga lakukan upaya kontraintel alakadarnya. #intel

75.Ini website yang tuduh Sidney Jones agen CIA di Indonesia . Tuduhan yg harus divalidasi #intel >> link http://t.co/E3AyK73O

76.Oke, sudah terlalu panjang nglantur #intel nya, sila dibaca sendiri di buku mas Ken

77.Ini cover bukunya #intel Ken Conboy >>> foto http://t.co/w85kQ5eY



78.Ini foto mobil Letkol Sudaryanto yang dikuntit satsus #intel , dikutip dari buku Ken >> http://t.co/5cQVNNXh
 

79.Eh btw saya juga agen lho, jangan bilang-bilang ya. #agenkoranaliasloper #intel

80. Ini contoh kartu pengenal #intel , lihat yg diatas buku. >> foto http://t.co/eqW0SHq0

81.Heeeee , jangan seriuss, itu bercanda, sindiran buat intel intel melayu yang sok #intel

82.Misalnya , #intel Mabes yang ngaku wartawan Indopos #ngakaktepukjidat >>> link http://t.co/Cw2mTZge

83.#intel melayu , petantang petenteng modal KTA di “MabesKota”, maunya gratisan. Malu maluin.

84.#intel melayu, mau ops di luarnegeri, malamnya ketok rumah pengusaha di glodok minta tambahan ongkos. Payah.

85.#intel melayu, ngaku anggota komunitas di tuiter tapi pakai akun anonym. IQ ??

86.#intel melayu, “makan mie di warung bawa HT dibunyikan keras, 10-2 ,10-2, 86, bentar ya ada tugas, woiii mienya belum dibayar ! “ wkwk

87. Trims simak #intel , selamat beraktivitas, waspada , upaya kontra dimana-mana. #oposeh #soktahu #melayu

PENTING ► Esensi Sukses !!! | Kultwit @JayaYEA

Written By Harmoko, A.Md on Selasa, 22 Januari 2013 | 19.35





@JayaYEA
Bukan ustad, bukan motivator, JURAGAN ajah
Author "The Power Of Kepepet"
  1. Sering saya dengar orang bilang,"Saya ingin SukSeS spt Anda/Dia/X". Tapi sbtlnya apa itu EsensiSukses?

  2. Ada 2 hal yg ingin saya bahas: EsensiSukses & Bolehkah kita membandingkan dg Org lain?

  3. Kebykan org memandang sukses dari yang kelihatan diatas permukaan, bukan dibwh permukaan.

  4. Byk org lihat ssorg yg punya rumah & mobil mewah, penghasilan besar, apalagi coba? Itukah yg disebut sukses?

  5. Bisa ya, tapi gak pasti. Bagaimana jika dibalik itu keluarganya tak bahagia, kurang waktu u/ anak istrinya?

  6. Bagaimana jika dibalik gemerlapnya harta Ia menginjak hak2 orang lain, dimusuhi byk orang?

  7. Bagaimana kompensasi kekayaannya, Ia 'tumbalkan' aturan2 agamanya, dan ibadahnya smakin berkurang?

  8. Bagaimana jika dibalik nama besarnya, tersimpan sumpah serapah orang tua yg tak mau mengakuinya lagi?

  9. Atau Bagaimana jika dibalik sapaan suksesnya, Ia sendiri merasakan kehampaan dlm hidupnya? Sukseskah?

  10. Disisi lain, seorg SUPIR, gaji pas2an, namun tiap pulang kerja disambut pelukan anak istri. Tidak Sukseskah?

  11. Seorang ustadz, bermotor buntut, berdakwah tanpa harap bayar. Tidak Sukseskah ia?

  12. Jadi apa itu EsensiSukses? Dinilai dg yg tampak? Atau yg tak tampak? Kalo tak tampak, bgmn kita menilai?

  13. Dan apakah kita bisa menilai seseorang itu Sukses atau Tidak? Siapa yg berhak menilai?

  14. Bagi org lain, si Supir bukanlah org sukses. Tapi bagi istri & anaknya, dia sukses menjadi pahlawan keluarganya.

  15. Hal kedua.. Sering org bilang, "Kalo dia BISA, aku juga harus BISA!" » MotiPator sering blg gini yah...

  16. Kalo kita memotivasi si Supir spt itu & membandingkan dg seorang Konglomerat. Kasihan si supir & anak istri.

  17. Bukannya mustahil, tapi STARTING POINTnya yg BerBEDA! Dg akselerasi yg sama2 fullspeed, tetap kalah!

  18. Justru jika dipaksakan, malah anak istrinya yg jadi korban ambisi. Plus org lain yg tumbal sukses diinjak.

  19. Sekali lagi, bukannya mustahil, tapi jangan membandingkan dengan orang lain!

  20. Si Supir start dari -100, sedangkan konglomerat start dari +1000. Kalo balapan dg umur yg serupa, ya berat.

  21. Starting Point tadi bkn hanya hal HARTA lho, tapi juga IQ (terutama), Mindset, Pendidikan, Jaringan, dll.

  22. Coba tengok diri Anda 5 thn ini, banyakkah kemajuan yg Anda alami? Jika iya, sbtlnya Anda sdh sukses.

  23. Sukses apa? Sukses bertumbuh, gak jalan ditempat, terpenting sukses membahagiakan diri & org yg dicinta.

  24. Apa sih TUJUAN Anda sukses itu sendiri? Ingat: Tujuan itu lebih penting dari kendaraan.

  25. Jangan sampai EsensiSukses itu seperti memandang rumput tetanga yg lbh hijau. Pdhl rumput sintetis.

  26. Jangan sampai EsensiSukses itu spt melihat bisnis org yg lebih kinclong, pdhl sedang rugi.

  27. Deskripsikan kata 'cukupmu', agar datang kata 'syukurmu'... Kecilkan makna sukses itu dan syukuri tiap harinya.

  28. Bandingkanlah diri Anda sekarang dg diri Anda kemarin, bukan dg org lain.

  29. Org  bijak bilang: Sukses itu bertumbuh ke potensi maksimal yg diberikan Allah kpd kita. Semoga..

  30. Sekian, smoga segera ketemu sukses...

Bagaimana Jika Ibu Kota atau Pusat Pemerintahan yang Pindah ?

Written By Harmoko, A.Md on Kamis, 17 Januari 2013 | 16.04

Di masa darurat, kurang lebih 4 Tahun ibu kota negara pernah pindah dari Jakarta ke Jogjakarta pada 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1950 silam bahkan pernah juga pindah Ke Bukit Tinggi Sumatera Barat pada 1950 setelah itu kembali lagi ke Jakarta setelah situasi dianggap aman.

Hematnya, tidak mustahil bahwa ibu kota negara dan pusat pemerintahannya pun boleh pindah jika melihat situasi Jakarta yang setiap Tahun semakin Tenggelam dan tidak menunjukkan perubahan sama sekali.

Simak saja beberapa negara berikut yang memindahkan ibu kotanya karena alasan politik maupun alasan ekonomi sebut saja Amerika Serikat, dari New York ke Philadelphia lalu ke Washington, DC. berikutnya Brasil dari Rio de Janeiro ke Brasilia, lalu Kazakhstan dari Almaty/Alma Ata ke Astana, Kazakhastan kemudian Turki dari Istanbul/Konstantinopel ke Ankara dan masih banyak lagi. (sumber : wikipedia).

Atau tidak menutup kemungkinan juga memisahkan antara Ibu Kota Negara dengan Pusat Pemerintahan. Seperti Malaysia yang Ibu Kota-nya Kuala Lumpur tetapi Pusat Pemerintahannya adalah Putra jaya.

Hemat saya wacana pemindahan ibu kota negara atau pun pusat pemerintahan tidak mustahil dilakukan tidak mengganggu kinerja pemerintah. Apalagi prediksi bahwa Jakarta akan tenggelam pada 2030 akan lebih cepat jika melihat situasi kondisi saat ini.

Ikhtiar Cinta

Written By Harmoko, A.Md on Jumat, 21 Desember 2012 | 23.45

Jika jodoh tidak juga hadir di tempat sekarang, cobalah hijrah ke tempat lain. Mungkin saja ia sedang menunggu. Atau jika jodoh tak juah tertambat ke hati makhluk yang dekat denganmu sekarang. maka cobalah hijrah ke hati yang lain.

Hijrah, jangan tutup dirimu dan hatimu dari pria/wanita lain yang mungkin saja ada di antara mereka jodohmu.

Niat ingin menikah, jangan menjadikan dirimu pengumbar cinta. yang cintanya tertawan ke sana kemari tapi tak jua tertambat dalam ikatan suci.

Ingat Allah pernah berpesan : Sesuatu yang baik bagimu, belum tentu baik bagi-Nya. dan Sesuatu yang jelek bagimu padahal baik menurut-Nya.  

Ingat, janganlah kau paksakan cinta bersemi bukan pada tempatnya, sebab hal itu namanya pemaksaan, cinta dan jodoh tak bisa dipaksakan. Maka mana mungkin kau berkata : "Aku hanya menginginkan dirimu".

Pernikahan adalah ikatan suci, maka sewajarnya jika ditambatkan dengan cara yang benar dan halal bukan dengan SOGOKAN.

Wahai wanita, menyerahkan semuanya kepada pria yang belum halal bagimu tak bedanya dengan sogokan.

Pernikahan itu ikatan suci, yang aqadnya mampu menggoncangkan 'arasy. Jangan sampai menikah menjadi terpaksa karena halim duluan (maaf), bukan karena sama-sama ridho dan ikhlas untuk mencapai suatu tujuan dalam mahligai bahtera rumah tangga bahagia (dunia-akhirat).    

Nikah Sirri, Sah atau Tidak ?

Written By Harmoko, A.Md on Selasa, 18 Desember 2012 | 20.46

Agama mengikuti aturan negara atau negara yang mengikuti aturan agama ?

Penggalan kalimat pak Eggy Sudjana yang saya tangkap semalam bahwa : Negaralah yang mengikuti aturan agama karena Indonesia adalah negara yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa (Sila kesatu Pancasila).

Maka sepatutnya, derajat pernikahan yang sirri atau pun tidak statusnya sama di mata hukum. (Farhat Abbas)

Di sisi lain, anak yang dihasilkan dari perzinahan yang tak diakui perkara nasab-nya oleh agama, justru disahkan oleh negara. Terbalik.

Padahal aturan agama Jelas, anak hasil perzinahan memutuskan Nasab-nya.

Sepatutnya saja, ketika ada saksi, ada wali dan ada mempelai, kedudukan hukumnya sudah bisa sama (seharusnya).

Hemat saya, nangkap orang maling tidak harus ada pernyataan dari pelaku maling bahwa dia maling. 

Jadi, apa salahnya jika pernikahan sirri pun ber status hukum sama dengan yang tidak sirri. 

Kalau pencatatan pernikahan hanya sebagai fungsi pendataan warga negara, yah fine-fine saja tidak jadi soal. tapi kalau sudah ke masalah status hukum.. itu kebangetan | Pendapat awam saya begini.

Yang paling banyak menyebabkan terjadinya pernikahan sirri adalah karena "poligami" dipersulit. (K.H.Ali Mustofa)

kesimpulannya, REVISI Undang-undang.   

Anak, Investasi

Written By Harmoko, A.Md on Kamis, 13 Desember 2012 | 19.49

Negeriku
1- Dalam hal pendidikan anak (dahulu) kata "jangan" itu cenderung lebih banyak keluar daripada kata "Iya", padahal pada masanya sang anak sedang belajar berkreatifitas bukan untuk ditakut-takuti, diancam atau dibohongi.

2- Sejak dalam kandungan hingga masa anak-anak sesungguhnya waktu yang sangat tepat untuk membangun sugesti positif bagi mereka. Maka selayaknya calon ayah atau calon ibu tidak cukup jika hanya dibekali dengan ilmu akademisi (sekaliber S1, S2 atau S3) saja tapi juga ilmu menjadi orang tua.

3- Nah, oleh karena itu, semua yang calon ayah dan calon ibu (baik yang sudah menikah atau belum menikah), memiliki pengetahuan menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita kelak adalah wajib hukumnya jika menginginkan generasi yang terbaik nantinya. Jangan sampai ketika anak kita sudah lahir, kita baru mau belajar. Memang tidak ada kata terlambat tapi kalau lebih awal tentu lebih baik, sehingga tidak salah dalam hal pola asuh anak.

4- Boleh percaya boleh tidak, ternyata para orang tua sering kali mengajarkan tindakan asusila kepada anaknya, bukan faktor kesengajaan tapi lantaran ketidaktahuan dan ketidakfahaman orang tua.

5- Bayangkan, jadi apa kelak sang anak jika sejak kecil sudah diajarkan berjoged ala manusia dewasa, atau disuguhkan dengan tontonan televisi yang bagi kita manusia dewasa cenderung meracuni.

6- Anak-anak itu layaknya kertas putih yang bisa ditulis apa saja. Jadi apa kelak mereka bergantung informasi (sugesti) apa yang paling banyak diberikan orang tuanya.

7- Anak-anak adalah investasi dunia dan akhirat, salah mendidiknya menyebabkan orang tua rugi dunia dan akhirat.

8- Maka dari itu, kita (para orang tua dan calon orang tua) harus sebaik mungkin terus belajar mempersiapkan diri dengan bekal ilmu dan pengetahuan bagaimana menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kelas, bukan sekedar menjadi istri atau suami yang baik.

9- Banyak bertanya, membaca buku, majalah, pelatihan atau seminar tentang parenting merupakan salah satu cara menambah pengetahuan tentang pola asuh anak.

10- Karena anak adalah investasi dunia dan akhirat kita, maka pantaslah jika episode ini bukanlah menjadi episode sembarangan.

11- Karena episode mendidik anak bukan episode sembarangan maka tidak boleh diabaikan dan kita semua harus memiliki keahlian tentangnya.

12- Tuhan bahkan menitip 1 surat khusus tentang mendidik anak (QS.Luqman), ini mengindikasikan betapa pentingnya anak.

13-  Ingat, masalah anak-anak bukan masalah sepeleh dan bukan masalah orang tua kita saja, tetapi masalah kita, karena kita semua adalah orang tua dan calon orang tua. 

Paradigma

Written By Harmoko, A.Md on Jumat, 16 November 2012 | 21.04

paradigmaSore itu disebuah subway di kota New York, suasana cukup sepi. Kereta api bawah tanah itu cukup padat oleh orang-orang yang baru pulang kerja.
Tiba-tiba, suara hening terganggu oleh ulah dua orang bocah kecil berumur sekitar 3 dan 5 tahun yang berlarian kesana kemari. Mereka berdua mulai mengganggu penumpang lain. Yang kecil mulai menarik- narik korang yang sedang dibaca oleh seorang penumpang, kadang merebut pena ataupun buku penumpang yang lain. Si kakak sengaja berlari dan menabrak kaki beberapa penumpang yang berdiri menggantung karena penuhnya gerbong itu.

Beberapa penumpang mulai terganggu oleh ulah kedua bocah nakal itu, dan beberapa orang mulai menegur bapak dari kedua anak tersebut. “Pak, tolong dong anaknya dijaga!” pinta salah seorang penumpang. Bapak kedua anak itu memanggil dan menenangkannya. Suasana kembali hening, dan kedua anak itu duduk diam. Tak lama kemudian, keduanya mulai bertingkah seperti semula, bahkan semakin nakal. Apabila sekali diusilin masih diam saja, kedua anak itu makin berani. Bahkan ada yang korannya sedang dibaca, langsung saja ditarik dan dibawa lari. Bila si-empunya koran tidak bereaksi, koran itu mulai dirobek-robek dan diinjak-injak.

Beberapa penumpang mulai menegur sang ayah lagi dengan nada mulai kesal. Mereka benar-benar merasa terganggu, apalagi suasana pulang kerja, mereka masih sangat lelah. Sang ayah memanggil kembali kedua anaknya, dan keduannya mulai diam lagi. Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Si anak mulai membuat ulah yang semakin membuat para penumpang di gerbong bawah tanah itu mulai marah.

Beberapa penumpang mulai memarahi sang ayah dan membentak. “Pak bisa mendidik anak tidak sich!” kata seorang penumpang dengan geram.

“Dari tadi anaknya mengganggu semua orang disini, tapi bapak koq diam saja”. Sang ayah bangkit dari duduknya, menghampiri kedua anaknya yang masih mungil, menenangkannya, dan dengan sangat sopan berdiri dan berkata kepada para penumpang yang ada di gerbong itu. “Bapak-bapak dan ibu-ibu semua, mohon maaf atas kelakuan kedua anak saya ini. Tidak biasanya mereka berdua bertingkah nakal seperti saat ini. Tadi pagi, kedua anak saya ini baru saja ditinggal oleh ibu mereka yang sangat mereka cintai. Ibu kedua anak saya ini meninggal karena penyakit LEUKEMIA yang dideritanya”. Bapak itu diam sejenak, dan sambil mengelus kepala kedua anaknya meneruskan ceritanya. “Mungkin karena kejadian yang menimpa ibu mereka berdua itu begitu mendadak, membuat kedua anak saya ini belum bisa menerima kenyataan dan agak sedikit shock karenanya. Sekali lagi saya mohon maaf”. Seluruh orang didalam gerbong kereta api bawah tanah itu seketika terdiam. Mereka dengan tiba-tiba berubah total, dari memandang dengan perasaan kesal karena kenakalannya, berubah menjadi perasaan iba dan sayang. Kedua anak itu masih tetap nakal, mengganggu seluruh penumpang yang ditemuinya. Tetapi, orang yang diganggu malah kelihatan tambah menampakkan kasih sayangnya. Ada yang memberinya coklat, bahkan ada yang menemaninya bermain.

PERHATIKAN KONDISI SUBWAY ITU. PENUMPANGNYA MASIH SAMA. KEDUA ANAK ITU MASIH NAKAL-NAKAL. Tetapi terjadi perubahan yang sangat mencolok. SUASANA DIDALAM SUBWAY ITU BERUBAH 180 DERAJAT. KENAPA?…. KARENA SEBUAH INFORMASI. INILAH YANG DISEBUT PERUBAHAN PARADIGMA. Ternyata, batas antara SETUJU dan MENOLAK itu sangat tipis sekali. Dan itu tidak akan pernah dapat ditembus, kecuali oleh sebuah INFORMASI yang benar.

Sumber : http://www.emotivasi.com/2008/08/16/paradigma/#more-404

IDEOLOGISASI ISLAM: JALAN MENUJU REVOLUSI (PEMIKIRAN ALI SYARI’ATI)

Written By Harmoko, A.Md on Kamis, 13 September 2012 | 09.17

Oleh: Anjar Nugroho

Ali Syari’ati dikenal sebagai pemikir yang multi-dimensi dan, karenanya juga, multi-interpretable. Tetapi para pengamat juga dapat melihat semacam pandangan dunia (weltanschauung) yang cukup konsisten dalam tulisan-tulisannya. Pandangan dunia Ali Syari’ati yang paling menonjol adalah menyangkut hubungan antara agama dan politik, yang dapat dikatakan menjadi dasar dari ideologi pergerakannya. Dalam konteks ini Syari’ati dapat disebut pemikir politik-keagamaan (politico religio thinker).[1]

Salah satu tema sentral dalam ideologi politik keagamaan Syari’ati adalah agama – dalam hal ini, Islam – dapat dan harus difungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang tertindas, baik secara kultural mapun politik. Lebih tegas lagi, Islam dalam bentuk murninya – yang belum dikuasai kekuatan konservatif – merupakan ideologi revolusioner ke arah pembebasan Dunia Ketiga dari penjajahan politik, ekonomi dan kultural Barat. Ia merupakan problem akut yang dimunculkan kolonialisme dan neo-kolonialisme yang mengalienasikan rakyat dari akar-akar tradisi mereka.[2]Atas dasar ini, maka banyak pengamat menyebut Syari’ati sebagai “the ideologist of revolt”.[3]

Dalam pandangan Syari’ati, agama sebagai ideologi diartikan: “suatu keyakinan yang dililih secara sadar untuk menjawab keperluan-keperluan yang timbul dan memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat”. Ideologi dibutuhkan, menurut Syari’ati, untuk mengarahkan suatu masyarakat atau bangsa dalam mencapai cita-cita dan alat perjuangan. Ideologi dipilih untuk mengubah dan merombak status quo secara fundamental.[4]

Menurut Ali Syari’ati, ada dua jenis agama dalam tahap sejarah. Pertama, agama sebagai ideologi dan kedua, agama sebagai kumpulan tradisi dan konversi sosial atau juga sebagai semangat kolektif suatu kelompok. Is menggambarkan kedudukan agama sebagai ideologi dengan pernyataan:

But one comes to understand Islam in the sense of an ideology in another way. Islam, as an ideology, is not a scientific specialization but is the feeling one has in regard to a school of thought as a belief ystem and not as a culture. It is the perceiving of Islam as an idea and not as a collection of sciences. It is the understanding of Islam as a human, historical and intellectual movement, not as a storehouse of cientific and technical information. And, finally, it is the view of Islam as an ideology in the minds of an intellectual and not as ancient religious sciences in the mind of a religious scholar. (Tetapi orang datang untuk memahami Islam dalam pengertian suatu ideologi di dalam pandangan yang lain. Islam, sebagai suatu ideologi, bukanlah suatu spesialisasi ilmiah tetapi adalah kepekaan seseorang yang mempunyai hubungan dengan suatu aliran pikiran lebih sebagai sistem kepercayaan dan bukan sebagai kultur. Ia memposisikan Islam sebagai suatu gagasan dan bukan sebagai suatu koleksi ilmu pengetahuan. Islam demikian mempunyai pandangan yang utuh tentang manusia, pergerakan intelektual dan sejarah, bukan sebagai suatu gudang informasi teknis dan ilmiah. Dan, pada akhirnya, Islam sebagai ideologi berada dalam pikiran kaum intelektual dan bukan sebagai ilmu pengetahuan religius masa lampau yang berada dalam pikiran ulama.)[5]

Syari’ati menjelaskan tentang proses berubahan agama dari ideologi menjadi sebuah institusi sosial. Munculnya agama sebagai ideologi, papar Syari’ati, dimulai ketika para Nabi muncul di tengah-tengah suku-suku dan pemimpin gerakan-gerakan historis untuk membangun dan menyadarkan masyarakat. Ketika para nabi itu memproklamirkan semboyan-semboyah tertentu dalam membantu massa kemanusiaan, maka para pengikut Nabi kemudian mengelilingi nabi dan menyatakan untuk turut bersama-sama Nabi dengan sukarela. Dari sinilah, menurut Syari’ati, munculnya agama sebagai ideologi. Namun kemudian, agama itu kehilangan semangat aslinya dan mengambil bentuk agama sebagai institusi sosial.[6]

Berangkat dari asumsi demikian, maka dapat dicari sebuah jawaban dari pertanyaan mengapa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad dengan cepat dapat diterima oleh masyarakat Arab. Islam sebagai ideologi yang diusung oleh Muhammad membawa orde sosial baru yang disandarkan kepada prinsip keadilan dan persamaan dalam stuktur sosial masyarakat. Islam yang demikian sangat menarik masyarakat Arab yang sudah lama muak dengan bentuk aristokrasi lama yang memerintah dengan tirani, ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan monopolisme. Masyarakat kala itu, mulai menemukan semboyan-semboyan ideologi sebagai obat penyembuhan dari penderitaan dan kesulitan akibat sistem tirani. Islam sebagai ideologi mampu memberikan keyakinan baru yang berbasis kepada kemauan bebas manusia untuk melepaskan diri dari jeratan sistem sosial dan politik tiranik.

Sehingga dapat dimengerti jika kemudian Syari’ati mencoba merekonstruksi “Islam Syi’ah” sebagai ideologi revolusioner. Syari’ati menyatakan dengan jelas, bahwa Islam bukanlah Islam kebudayaan yang melahirkan ulama dan mujtahîd, bukan pula Islam dalam tradisi umum, tetapi Islam dalam kerangka Abu Zar.[7] Islam lahir secara progresif dalam upaya merespon problem-problem masyarakat dan memimpin masyarakat untuk mencapai tujuan-tujuan dan cita-cita yang berharga. Dalam hal ini, Islam dipahami sebagai sebuah pandangan dunia yang komprehensif, dan diposisikan sebagai “agama pembebasan” yang concern dengan isu-isu sosial-politik seperti penindasan, diskriminasi, ketidakadilan dan sebagainya. Semangat Islam sebagai ideologi pembebasan mendorong terjadinya revolusi masyarakat Islam untuk membangun konstruksi peradaban baru yang progresif, partisipatif, tanpa penindasan dan ketidakadilan.

Dalam konteks global Syari’ati melihat ada problem besar masa depan dunia Islam, yaitu kolonialisme dan neo-kolonialisme oleh Barat. Hal ini telah mengalienasi masyarakat Muslim dari kebudayaan aslinya (turâts), karena mereka mau tidak mau harus mengikuti alur kebudayaan dan pola pikir yang telah “dipaksakan” oleh pihak kolonialis maupun neo-kolonialis. Senada dengan Syari’ati, Hasan Hanafi juga melihat bahwa kolonialisme atau westernisasi mempunyai pengaruh luas terhadap dunia Timur (Muslim), tidak hanya pada budaya dan konsepsi tentang alam, tetapi juga mengancam kemerdekaan peradaban. Bahkan, masih menurut Hanafi, juga merambah pada gaya kehidupan sehari-hari: bahasa, menifestasi kehidupan umum dan seni bangunan. Tidak hanya itu, keterbukaan ekonomi memaksa dunia Islam untuk membuka diri terhadap kapitalisme internasional, demikian juga dengan keterbukaan bahasa, maka konsekwensinya harus menerima kehadiran bahasa asing.[8]

Syari’ati memandang saat itu kolonialisme dan westernisasi telah melanda negara Dunia Ketiga tak terkeculai Iran. Akibat yang timbul dari hal itu adalah munculnya bentuk-bentuk korporasi multi-nasional, rasisme, penindasan kelas, ketidakadilan, dan mabuk kepayang terhadap Barat (Westoxication). Ia menyatakan bahwa kolonialisme Barat dan kepincangan sosial sebagai musuh terbesar masyarakat yang harus diberantas dalam jangka panjang. Tetapi untuk jangka pendek, menurut Syari’ati, ada dua musuh yang harus segera dimusnahkan: pertama, Marxisme vulgal – menjelma terutama dalam Marxisme-Stalinisme – yang banyak digemari para intelektual dan kaum muda Iran, dan kedua, Islam konservatif sebagaimana dipahami kaum mullah yang menyembunyikan Islam revolusioner dalam jubah ketundukan kepada para penguasa.[9]

Untuk membebaskan massa dari krisis yang membawa mereka mencapai negara yang merdeka dan berkeadilan sosial-ekonomi, Syari’ati yakin bukan melalui Liberalisme, Kapitalisme, ataupun Sosialisme, namun yang bisa mengobati penyakit ini, kata Syari’ati, hanyalah Islam. Baginya, Islam merupakan satu-satunya solusi yang akan menyelamatkan negeri Muslim dari segala bentuk tekanan dan penindasan. Hal ini sangat masuk akal jika Syari’ati menginginkan Islam sebagai penggerak revolusi. Terlebih lagi dalam konteks Iran, Islam (Syi’ah) justru dijadikan sebagai agama resmi negara. Dengan latar belakang yang demikian kondusif, Syari’ati menempuh sejumlah strategi sekaligus mengkonsolidasi masyarakat ke dalam satu paradigma: Islam adalah solusi. Beberapa strategi tersebut mengandung muatan yang sama, yakni menyakinkan masyarakat untuk memilih Islam sebagai jalan perubahan.[10]

Pertama-tama Syari’ati berusaha melakukan ideologisasi Islam dengan menunjukkan karakteristik revolusioner Islam. Ia berupaya membuktikan bahwa Islam agama yang sangat progresif, agama yang menentang penindasan. Syari’ati sangat antusias untuk membuktikan perlunya suatu reformasi bagi pemahaman Islam yang benar, sehingga dibutuhkan figur-figur yang mampu memimpin masyarakat kepada perubahan paradigma dan mental masyarakat. Mereka itulah yang menurut Syari’ati disebut para pemikir tercerahkan (rausanfikr). Kemudian Syari’ati menunjukkan bahwa Islam merupakan akar budaya masyarakat Iran yang telah lama mendarah daging. Dengan demikian masyarakat Iran harus kembali kepada warisan budaya Islam jika menginginkan perubahan.

Untuk mengkonstruksi Islam sebagai sebuah ideologi, mula-mula Syari’ati melakukan redifinisi tentang pemahaman ideologi itu sendiri Syari’ati menjelaskan bahwa ideologi terdiri dari kata “ideo” yang berarti pemikiran, gagasan, konsep, keyakinan dan lain-lain, dan kata “logi” yang berarti logika, ilmu atau pengetahuan. Sehingga ideologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang keyakinan dan cita-cita.[11] Menurut pengertian ini seorang ideolog adalah seorang pembela suatu ideologi atau keyakinan tertentu. Dalam kaitan ini, ideologi terdiri dari berbagai keyakinan dan cita-cita yang dipeluk oleh suatu kelompok tertentu, suatu kelas sosial atau suatu bangsa.[12]

Ideologys includes both a belief and the knowing of it. It is to have a special attitude and consciousness which a person has in relation to himself, his class position, social base, national situation, world and historic destiny as well as the destiny of one’s own society which one is dependent upon… Therefore, ideology is a belief system that interprets the social, rational and class orientation of a human being as well as one’s system of values, social order, form of living, ideal individual, social situation and human life in all its various dimensions. It answers the questions: What are you like? What do you do? What must you do? What must be?

(Ideologi meliputi suatu kepercayaan dan pengetahuan tentangnya. Ideologi diperlukan agar seseorang mempunyai kesadaran dan sikap khusus dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, posisi kelasnya, dasar sosial, situasi nasional, dunia dan tujuan sejarah seperti halnya tujuan masyarakat sebagai tempat bergantung… Oleh karena itu, ideologi adalah suatu sistem kepercayaan yang menginterpretasikan kondisi sosial, rasionalitas dan orientasi kelas seseorang seperti halnya sistem nilai, orde sosial, format individu ideal, hidup manusia dan situasi sosial dalam berbagai dimensinya . Ideologi menjawab pertanyaan: Apa yang kamu sukai? Apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu harus lakukan? Harus menjadi apa?)[13]

Syari’ati berusaha untuk membedakan antara ideologi, ilmu dan filsafat. Ilmu menurutnya merupakan pengetahuan manusia tentang alam yang kongkret. Ia merupakan penemuan manusia tentang beberapa hubungan, suatu prinsip, kualitas dan karakteristik di dalam kehidupan manusia, alam dan benda-benda lainnya. Demikian halnya dengan ilmu, dapat didefinisikan sebagai pencarian ke arah pemahaman sesuatu yang bersifat umum, belum diketahui dan tidak terjangkau ilmu. Ia mempersoalkan kemungkinan-kemungkinan ideal, kebenaran dan substansi, fenomena dan konsep-konsep yang ada dalam alam pikiran manusia.[14] Tentu saja pemahaman Syari’ati tentang ideologi, ilmu dan filsafat berbeda dengan pandangan para penganut aliran postmodernisme dewasa ini. Jürgen Habermas, misalnya, ia menyatakan bahwa antara ideologi, ilmu, dan filsafat (bahasa Habermas: Knowledge, pengetahuan) mempunyai landasan yang sama dalam pengembanganya, yaitu kepentingan (keberpihakan). Walaupun Habermas berbeda dengan Marx yang mengatakan bahwa kepentingan itu adalah pasti kepentingan kelompok atas, Habermas lebih melihat kepentingan itu muncul dari siapa saja (manusia kelompok manapun) yang terlibat dalam pengembangkan sebuah ilmu, filsafat atau ideologi.[15]

Di sisi yang berbeda, ideologi menuntut seorang cendekiawan untuk memihak. Bagi seorang ideolog, ideologinya adalah suatu kepentingan yang mutlak. Setiap ideologi memulai dengan tahap kritis, kritis terhadap status quo, kritis terhadap masyarakat dengan berbagai aspek kultural, ekonomi, politik dan moral yang cenderung melawan perubahan-perubahan yang diinginkan. Berbeda dengan filsafat maupun ilmu yang sama sekali tidak mempunyai komitmen seperti itu, ia hanya menggambarkan realitas seperti apa adanya dengan tidak membedakan apakah ia menolak atau menerima realitas tersebut.[16] Inilah perbedaan yang menyolok antara ilmu, filsafat dan ideologi. Dengan kata lain, agar ideologi mampu memposisikan dirinya menjadi landasan perjuangan, maka keberpihakannya harus jelas. Pada wilayah politik, ia harus mengabdi sehingga mampu memberikan doktrin-doktrin politik. Pada kekuasaan politik ia harus bisa menyerang. Inilah sebenarnya, kata Syari’ati, makna sesungguhnya dari ideologi, yang berarti bukan konsep, landasan berfikir, filsafat, apalagi ilmu. Ideologi adalah kata lain dari keberpihakan politik, tegas Syari’ati.

Lebih lanjut Syari’ati mengatakan, baik ilmu maupun filsafat tidak pernah melahirkan revolusi dalam sejarah walaupun keduanya selalu menunjukkan perbedaan-perbedaan dalam perjalanan waktu. Adalah ideologi-ideologi, tegas Syari’ati, yang senantiasa memberikan inspirasi, mengarahkan dan mengoganisir pemberontakan-pemberontakan menakjubkan yang membutuhkan pengorbanan-pengorbanan dalam sejarah manusia di berbagai belahan dunia. Hal ini karena ideologi pada hakekatnya mencakup keyakinan, tanggungjawab, keterlibatan dan komitmen.[17] Ideologi, lanjut Syari’ati, menuntut agar kaum intelektual bersikap setia (commited). Ideologilah yang mampu merubah masyarakat, sementara ilmu dan filsafat tidak, arena sifat dan keharusan ideologi meliputi keyakinan, tanggungjawab dan keterlibatan untuk komitmen. Sejarah mengatakan, revolusi, pemberontakan hanya dapat digerakkan oleh ideologi.[18]

Setelah mengkonstruksi gagasannya tentang ideologi, Syari’ati menegaskan tentang urgensi perubahan yang hanya dapat digerakkan oleh masyarakat yang mempunyai ideologi kokoh. Dalam kondisi keterpurukan untuk konteks Iran, Syari’ati berfikir bahwa Islam harus mampu menjadi penggerak kesadaran masyarakat. Islam perlu lebih dipahami sebagai sebuah pandangan dunia komprehensif, sebuah rencana untuk merealisasikan potensi manusia sepenuhnya, baik secara perseorangan maupun kolektif, untuk tujuan makhluq secara keseluruhan.[19] Di sinilah letaknya bahwa Islam berfungsi sebagai ideologi pembebasan:

Ia (Islam) akan membantu dalam memutuskan bentuk perjuangan melawan kekuasaan tiranik. Ia tidak akan pernah berbaiat (sepakat) dengan kekejaman. Ia akan merancang kontinuitas sejarah berkesinambungan. Ia akan menegaskan perjuangan tak kenal henti antara pewaris Adam dan pewaris setan. Asy-syûra mengingatkan kembali akan ajaran ihwal kenyataan bahwa Islam dewasa ini adalah Islam kriminal dalam jubah “tradisi” dan bahwa Islam sejati adalah Islam yang tersembunyi dalam jubah merah kesyahidan.[20]

Syari’ati berupaya menegaskan perbedaan Islam dengan pemahaman umum tentang agama yang dikonsepsikan oleh Durkheim. Dalam bentuk yang tidak ideologis, agama seperti dikemukakan Durkheim sebagai “suatu kumpulan keyakinan warisan nenek moyang dan perasaan-perasaan pribadi; suatu peniru terhadap modus-modus, agama-agama, ritual-ritual, aturan-aturan, konvensi-konvensi dan praktek-praktek yang secara sosial telah mantab selama generasi demi generasi. Ia tidak harus merupakan menifestasi dari semangat ideal kemanusiaan yang sejati”.[21] Jika Islam dirubah bentuknya dari “madzab ideologi” menjadi sekedar “pengetahuan kultural” dan sekumpulan pengetahuan agama sebagaimana yang dikonsepsikan Durkheim, ia akan kehilangan daya dan kekuatannya untuk melakukan gerakan, komitmen, dan tanggung jawab, serta kesadaran sosial sehingga ia tidak memberi kontribusi apa pun kepada masyarakat.[22]

Untuk mencapai tujuan menggerakkan masyarakat melalui ideologisasi Islam, Syari’ati menempuh beberapa langkah strategis. Syari’ati berupaya untuk melakukan redifinisi Islam dengan menyajikan tahapan-tahapan ideologi secara detail, berkenaan dengan cara memahami Tuhan, mengevaluasi segala sesuatu yang berhubungan dengan ide-ide yang membentuk lingkungan sosial dan mental kognitif masyarakat, serta metode atau usulan-usulan praktis untuk mengubah status quo yang tidak memuaskan kehendak masyarakat.[23]

Pada tahap pertama, Syari’ati meletakkan pandangan dunia tauhîd sebagai pandangan dasar. Pendangan ini menyatakan secara langsung bahwa kehidupan merupakan bentuk tunggal, organisme yang hidup dan sadar, memiliki kehendak, intelejen, perasaan dan tujuan. Hal demikian berbeda dengan pandangan dunia yang membagi kehidupan dalam kategori yang berpasangan: dunia dan alam kekal; fisik dan ghaib; substansi dan arti; rohani dan jasmani.[24] Karena itu diskriminasi manusia atas dasar ras, kelas, darah, kekayaan, kekuatan dan lainnya tidak bisa dibiarkan, karena ia dianggap berlawanan dengan nilai-nilai Ketuhanan.

Pada tahap kedua, adalah berkenaan dengan bagaimana memahami dan mengevaluasi pemikiran dan segala sesuatu yang membentuk lingkungan sosial dan mental. Bagi Syari’ati, Islam adalah pandangan dunia yang bisa dipahami dengan mempelajari al-Qur’an sebagai kumpulan ide-ide dan mempelajari sejarah Islam sebagai ringkasan kemajuan yang pernah dialami dari permulaan misi Nabi sampai pada dunia kontemporer.[25]

Dengan berpijak pada al-Qur’an, Syari’ati melihat keseluruhan sejarah sebagai sebuah konflik kekuatan-kekuatan, sementara itu manusia sendiri menjadi medan perang antara asal jasmaniahnya yang rendah dan semangat Ketuhanannya. Dialektika sejarah seperti ini sangat mudah diidentifikasi meminjam konsep dialektika sejarah Marxis, meskipun tidak secara keseluruhan.[26] Meskipun demikian, Syari’ati mengklaim bahwa analisisnya mengenai dialektika Qabil dan Habil sebagai sebuah simbol pertentangan yang terus-menerus adalah pemikiran orisinil dalam konteks pemahaman Islam yang diambil dari intisari beberapa ayat dalam al-Qur’an.

Pada tahap berikutnya, diperlukan suatu ikhtiar bagaimana mencari dan menerapkan jalan yang praktis untuk menumbangkan status quo. Caranya ialah melengkapi masyarakat dengan tujuan dan cita-cita yang diinginkan, langkah-langkah praktis berdasarkan kondisi masyarakat, serta upaya menciptakan perubahan dan kemajuan dalam aksi-aksi revolusioner. Ideologi harus mengejawantah sebagai suatu amanat yang sedang dihidupkan kembali untuk membangkitkan kaum yang menderita, bodoh dan lamban, agar bangun dan menegaskan hak-hak serta identitasnya.

Keseluruhan langkah yang dikonstruksi Syari’ati pada intinya akan mengerucut pada satu tujuan, yaitu pembaharuan Islam (protestanism).

To emancipate and guide the people, to give birth to a new love, faith, and dynamism, and to shed light on people’s hearts and minds and make them aware of various elements of ignorance, superstition, cruelty and degeneration in contemporary Islamic societies, an enlightened person should start with “religion.” By that I mean our peculiar religious culture and not the one predominant today. He should begin by an Islamic Protestantism similar to that of Christianity in the Middle Ages, destroying all the degenerating factors which, in the name of Islam, have stymied and stupefied the process of thinking and the fate of the society, and giving birth to new thoughts and new movements. Unlike Christian Protestantism, which was empty-handed and had to justify its liberationist presentation of Jesus, Islamic Protestantism has various sources and elements to draw from.

(Untuk membebaskan dan membimbing rakyat, untuk menciptakan cinta dan keyakinan baru, kedinamisan, dan memberi kesadaran baru ke dalam hati dan pikiran rakyat, serta mengingatkan mereka akan berbagai bahaya yang muncul akibat unsur kebodohan, ketahayulan, kejahatan dan kebobrokan di dalam masyarakat-masyarakat Islam kini, orang tercerahkan harus mulai dengan “agama” – maksud saya kebudayaan agama dan bukan salah satu budaya yang dominan sekarang ini. Ini harus dimulai dengan semacam Protestantisme Islam (pembaharuan Islam) yang mirip dengan Protestantisme Kristen (pembaharuan Kristen) pada Abad Pertengahan, yang menghancurkan seluruh faktor perusak yang, dengan mengatasnamakan Islam, telah menghalangi dan membius proses pemikiran-pemikiran dan gerakan-gerakan baru. Tidak seperti Protestantisme Kristen, yang tak punya apa-apa dan harus membenarkan kehadiran Yesus sebagai pembebas, maka Protestanisme Islam mempunyai banyak sumber daya dan unsur yang dapat digunakannya.[27]

Gerakan Protestanisme Islam, menurut Syari’ati akan mengeluarkan energi yang sangat besar dan memungkinkan seorang Muslim yang tercerahkan untuk: pertama, penyaring dan menyuling sumber-sumber daya masyarakat Islam dan mengubah penyebab kebobrokan dan kemandekan menjadi kekuatan dan gerakan. Kedua, mengubah konflik antar kelas dan sosial yang ada menjadi kesadaran akan tanggung jawab sosial. Ketiga, menjembatani kesenjangan yang semakin lebar antara “pulau yang dihuni oleh orang yang tercerahkan” dengan “pantai rakyat kebanyakan” dengan menjalin hubungan kekeluargaan dan pemahaman di antara mereka, dan dengan demikian menempatkan agama – yang datang untuk membangkitkan dan melahirkan gerakan – untuk kepentingan rakyat. Keempat, mencegah agar senjata agama tidak jatuh kepada mereka yang tidak patut memilikinya dan yang tujuannya adalah memanfaatkan agama untuk tujuan-tujuan pribadi, yang dengan cara itu memperoleh energi yang diperlukan untuk menggerakkan rakyat.

Kelima, mengusahakan suatu kebangkitan kembali agama yang – dengan kembali kepada agama yang hidup, dinamis, kuat dan adil – melumpuhkan agen-agen reaksioner dalam masyarakat, sekaligus menyelamatkan rakyat dari unsur-unsur yang digunakan untuk membius mereka. Keenam, menghilangkan semangat peniruan dan kepatuhan yang merupakan ciri agama biasa, dan menggantinya dengan semangat pemikiran bebas (ijtihâd) yang kritis, revolusioner, dan agresif. Semua ini dapat dicapai melalui gerakan pembaharuan agama yang akan menyaring dan menyuling cadangan energi yang sangat besar di dalam masyarakat, dan akan mencerahkan zaman itu serta membangunkan generasi masa kini. Karena alasan-alasan itulah, Syari’ati berharap, agar orang yang tercerahkan dapat berhasil mencapai kesadaran diri yang progresif.[28]

[1] Azra, “Akar-Akar Ideologis…”, hlm. 70

[2] Nikki R Keddie, Root of Revolution: An Interpretative History of Modern Iran (New Haven: Yale University Press, 1981), hlm. 217.

[3] Azra, “Akar-Akar Ideologis…“, hlm. 70

[4] Lihat Ali Syari’ati, “Islamology”, dalam http://www.shariati.com, diakses tanggal 11 Maret 2006

[5] Ibid.

[6] Ali Syari’ati, Islam Madzab Pemikiran dan Aksi (Bandung: Mizan, 1982), hlm. 154-155

[7] Lihat Ali Syari’ati, “And Once Again Abu-Dhar”, dalam http://www.iranchamber.com/personalities/ashariati/works/once_again_abu_dhar7.php, diakses tanggal 11 Maret 2006

[8] Lihat Hasan Hanafi, Muqaddimah fî ‘Ilm al-Istighrâb (Kairo: Dâr al-Fanniyah, 1991), hlm. 17

[9] Lihat Azra, “Akar-Akar Ideologis…“, hlm. 71; bandingkan dengan Bryan S. Turner, Runtuhnya Universalitas Sosiologi Barat: Bongkar Wacana Atas Islam Vis a Vis Barat, Orientalisme, Postmodernisme dan Globalisme (Yogyakarta: Ar-Ruzz Press, 2002), hlm. 197. Hasan Hanafi mengemukakan hal yang senada dengan Syari’ati bahwa sesungguhnya tantangan terbesar bagi kelompok-kelompok umat sekarang adalah bagaimana mempertahankan identitas tanpa harus terjatuh dalam bahaya isolasi diri, dan bahaya menolak andil orang lain; serta bagaimana menghadapi bahaya pembebekan buta (taqlîd). Lihat Hanafi, Muqaddimah…, hlm. 21

[10] Lihat Supriyadi, Sosialisme Islam…, hlm. 150

[11] Bandingkan apa yang telah didefinisikan oleh Syari’ati tentang ideologi dengan definisi yang diberikan oleh John B. Thompson yang menyatakan bahwa ideologi adalah “sistem berfikir”, “sistem kepercayaan”, “praktik-praktik simbolik” yang berhubungan dengan tindakan sosial politik. Lihat John B. Thompson, Analisis Ideologi: Kritik Wacana Ideologi-Ideologi Dunia, terj. Haqqul Yakin (Yogyakarta: IRCiSoD, 2003), hlm. 17

[12] Lihat Ali Syari’ati, “Man and Islam”, dalam http://www.shariati.com, diakses tanggal 11 Maret 2006

[13] Syari’ati, “Islamology”.

[14] Lihat Syari’ati, “Man and Islam”.

[15] Menurut analisa Habermas, ada tiga macam ilmu yang didorong seakan-akan dari dalam oleh tiga kepentingan dasar manusia: ilmu-ilmu empiris-analitis didorong oleh kepentingan teknis, kepentingan untuk memanfaatkan apa yang diketahui, ilmu-ilmu historis-hermeneutis diarahkan oleh kepentingan “praksis” (dalam arti Aristoteles), kepentingan untuk memahami makna. Ilmu-ilmu kritis (filsafat, psikoanalisa) didorong oleh kepentingan mansipatoris, kepentingan untuk membebaskan. Lihat Franz Magnis-Suseno, “75 Tahun Jürgen Hambermas”, dalam Basis, No. 11-12, Tahun ke-53, November-Desember 2004, hlm. 6

[16] Ali Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, terj. Amien Rais (Jakarta: Srigunting, 2001), cet. II, hlm. 161

[17] Ibid., hlm. 163

[18] Ali Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 81

[19] Prasetyo, Sosiologi Islam…, hlm. 153

[20] Ali Syari’ati, Islam Madzab Pemikiran dan Aksi, terj. Nasrullah dan Afif Muhammad (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 47

[21] Syari’ati, Ideologi Kaum Intelektual…, hlm. 81

[22] Syari’ati, “Islamology”.

[23] Syari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, hlm. 160

[24] Syari’ati, On Sociology of Islam, hlm. 82

[25] Ibid., hlm. 83

[26] Menurut Marx, yang menentukan perubahan dan perkembangan masyarakat adalah pertentangan antara kelas-kelas sosial atau terjadinya kontradiksi dalam masyarakat, dan kelas-kelas sosial merupakan aktor sejarah utama. Jadi yang menentukan jalannya sejarah bukan individu-individu tertentu, melainkan kelas-kelas sosial yang masing-masing memperjuangkan kepentingannya. Lihat Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx; Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), hlm. 125

[27] Ali Syari’ati, “Where shall we begin?”.

[28] Ibid.

sumber : pemikiranislam.wordpress.com bisa di baca juga di icas-indonesia.org
Link : http://serbasejarah.wordpress.com/2009/04/18/ideologisasi-islam-jalan-menuju-revolusi-pemikiran-ali-syari%E2%80%99ati/

Facebook

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Catatanku - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger