Catatanku: Catatan
Headlines News :

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Pentingkah sejarah

Written By Harmoko, A.Md on Selasa, 11 Juni 2013 | 20.53

Dengan melihat sejarah masa lalu, maka kita akan melihat bagaimana sejarah masa depan.
Karena begitu pentingnya sejarah, maka tidak jarang penguasa membuat cerita sejarah dan memutar balikkanya menurut kepentingannya.

Cita rasa sejarah akan selalu sepadan untuk mempertahankan kekuasaan atau sekedar membuat opini publik tentang siapa A dan siapa B yang lama kelamaan mencuci otak masa kini.
Seorang komentator menulis : "sejarah biarlah sejarah, sekarang adalah sekarang". Padahal cara pandang demikian akibat dibentuk oleh sejarah pula.

Begitu pentingnya sejarah, bertahun dan berabad-abad lamanya para ilmuan rela hati mengumpulkan data, menggali, dengan anggaran yang tak terhitung jumlahnya, tujuannya cuma satu : "Menemukan sejarah dan fakta masa lalu"

Kitab yang paling diagungkan penganutnya, Al-Qur'an, Injil, Wedah, Tripitaka, Talmud dan lain sebagainya adalah buku sejarah paling populer yang menjadi pedoman masa kini dan masa depan.   

Contoh paling kecil, ketika kami makan bangku perguruan tinggi, sebuah jurusan yang identik berbicara tentang teknologi masa depan, untuk pertama kalinya, kami diperkenalkan dengan sejarah yang menjadi objek konkrit yang harus didapat jika wisudah. Tentu, yang lain juga tidak jauh beda bukan ?? 

Jadi melupakan sejarah sama seperti kacang yang lupa dengan kulitnya.
 
Perlu diketahui pula bahwa, tolok ukur berhasil dan tidaknya pekerjaan masa kini adalah masa lalu (sejarah). 

PKS Kesulitan Jaring Caleg

Written By Harmoko, A.Md on Selasa, 09 April 2013 | 22.32



Saat partai lain sibuk membuka meja pendaftaran dalam rangka menjaring para bakal caleg untuk  diikut sertakan pada kompetisi pemilihan umum 2014, banyak kalangan berduyun-duyun mengajukan (mendaftarkan diri ) sebagai caleg, bahkan tidak segan walaupun harus mengeruk kocek cukup dalam. Hal ini ternyata tidak berlaku bagi pencalegan PKS loh, di saat yang lain bersikap demikian, di PKS malah berlaku sebaliknya. Kesulitan itu terjadi ketika sekian banyak para kader menolak ditunjuk untuk maju pada kompetisi 5 tahunan sekali ini. Penulis pun adalah salah satu saksi hidup proses recruitmen pencalegan itu.

Penolakan ini bukan karena para kader tak mampu atau kapasitas kader PKS tak layak loh, bayangkan para pengamat sendiri mengamini bahwa PKS adalah satu-satunya partai yang kaya dengan Intelektual dan professional muda berkualitas, serta paling siap menyambut kemenangan pada kompetisi pemilu 2014. Jadi perlu digaris bawahi BUKAN KARENA PKS MISKIN KADER BERKUALITAS, namun lebih kepada tugas anggota dewan adalah amanah berat yang dibebankan kepada para kader maka mereka memilih menolak. Saat tulisan ini dibuat, nama-nama yang telah tercantum pada DCS (Daftar Caleg Sementara) berulang kali menyampaikan permohonan  maaf agar tidak dimajukan baik disampaikan secara lisan maupun SMS karena takut tidak bisa menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Tapi bagaimanapun ini adalah amanah, ketika para qiyadah mengusulkan nama kader untuk maju, itu menandakan bahwa mereka dilihat paling layak berjuang di tingkat legislator.

Beberapa orang saudara bertanya kepada penulis tentang pencalegan 2014, mengingat mereka tahu bahwa penulis merupakan salah satu pengurus PKS di tingkat DPC. Mereka heran kenapa penulis tak ikut maju seperti parpol lain yang berbondong- bondong mendaftarkan diri, padahal penulis juga adalah pengurus aktif. Penulis tersenyum saja, Inilah bedanya PKS dengan parpol lain, mekanisme penjaringan caleg PKS sangat jauh dari unsur KKN seperti partai kebanyakan. Menjadi caleg bukanlah kebanggan atau barang mewah tapi menjadi kabar yang tidak sedap untuk kader, saya yakin hal ini tidak pernah terjadi di parpol lain. Karena setiap kader dibebankan amanah masing-masing, baik ditingkat struktur maupun dalam posisinya sebagai seorang legislator, semuanya memegang peran penting masing-masing untuk kemaslahatan dakwah Islam demi terwujud masyarakat berkeadilan.

Sepanjang yang penulis alami, ada banyak sekali kalangan eksternal yang melamarkan diri untuk dimajukan sebagai caleg 2014 lewat PKS Banyuasin, tapi PKS memegang teguh semangat perbaikan dan perubahan sehingga selalu melihat rekam jejak (track record) dan pendapat jama’ah bagi sang pelamar sehingga tidak sembarang terima, maka siapa saja yang ditunjuk oleh jama’ah dalam mekanisme suro itu’, artinya mereka dipercaya oleh jama’ah untuk mengemban amanah yang lebih besar, bukan itu saja jama’ah akan all out mendukung (memperjuangkan) kader atau siapa saja yang diamanahi tugas ini untuk bisa memenangkan kompetisi. Ini merupakan bagian dari tradisi PKS menghindari anggota dewan yang bermain ketika mereka resmi memangku jabatan nanti. Sudah sedimikin ketat saja prosesnya terkadang masih saja kecolongan (maklum manusia, tapi alhamdulillah sampai saat ini setiap kader yang ketahuan menyalahgunakan jabatan akan gampang sekali diturunkan bahkan dikeluarkan), apalagi jika proses itu seperti parpol tetangga, yang untuk menjadi Bacaleg saja harus sikut-sikutan sesama kader mereka (baca : saling semebelih), wajar jika aroma KKN itu akan sangat kental, bukan itu saja disamping faktor duit, faktor kedekatan dengan pejabat tinggi di parpolnya atau keluarga pun menjadi hal yang tidak bisa dipungkiri saat recruitmen caleg (ini juga diamini oleh caleg bersangkutan)

Rangkap Jabatan
Saat qiyadah mengumumkan bahwa para kader dilarang rangkap jabatan, suami atau istri pejabat publik tidak mencalonkan diri sebagai anggota dewan, bagi para kader hal ini tidak begitu mengagetkan mengingat hal itu sudah menjadi tradisi turun temurun di PKS untuk tidak rangkap jabatan sehingga roda organisasi dapat bekerja secara optimal dalam menangkap pesan dari lapisan paling bawah masyarakat Indonesia. Tentu budaya baik yang turun temurun ini perlu diwariskan ke partai politik lainnya, insyaAllah ini juga adalah dakwah.

Bercermin ke dakwah terdahulu
Bercermin dari kisah-kisah perjuangan Rosulullah. Penulis mengamini, sungguh dahsyat dakwah Islam di Parlemen. Dakwah di masjid ke Masjid itu biasa, maka akan dahsyat sekali powernya ketika dakwah Islam itu berwujud parlemen, pemerintahan atau bahkan negara. Ingat bagaimana proses dakwah Rosulullah dari fase sirriyah (senyap) kepada fase dakwah dhahirriyah (terang-terangan). Sejak itu pula panji daulah Islam dikibarkan setinggi-tingginya, ummat keluar dari masa keterindasan kepada masa kegemilangan tanpa penjajahan keyakinan sebab semua hidup berdampingan dan memegang hak untuk hidup dengan keyakinannya masing-masing.
Sejak dakwah Islam dilakukan secara terang-terangan, tak pernah sekalipun Ummat ini hidup tanpa daulah Islam, melainkan mereka menjelma menjadi sebuah pemerintahan yang membebaskan manusia dari perbudakan yang telah lama berkuasa apapun keyakinannya.

Bila Dakwah, Berlabel Negara…

Written By Harmoko, A.Md on Kamis, 04 April 2013 | 00.29

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah…negaraku adalah lahan subur, tempat tumbuh dan pesatnya gerakan dakwah Islam. Gelombang kebaikan itu muncul membersamai situasi kondusif Indonesia, tempat berkumpulnya Elit kebenaran dan Elit kebathilan. Saya kemudian berfikir, mungkin ini pula di antara keberkahan demokrasi yang semua orang rasakan, semua ingin tampil laksana ingin dikenal walaupun tanpa esensi yang menjadi landasan paradigma. Saya lihat ini peluang dan sekaligus jembatan dakwah menjelma dalam bentuk negara.

Dakwah harus mengalami metamorfosa tanpa harus meninggalkan orisinalitasnya, paradigma ini harus tertancap di nurani dan tekad setiap Du’at, Da’i harus punya obsesi kekuasaan, obsesi politik dan obsesi peradaban. Ketiga hal tersebut harus menjelma dalam suatu bentuk yang dinamakan NEGARA, dakwah seperti ini yang dahulu kita lihat dari napak tilas aktivitas politik dakwah Rasulullah dan para sahabat, Rasulullah mengirim surat-suratnya ke Persia, Romawi, Yaman, dll, serta spirit nabawi yang terlihat ketika Rasulullah dan para sahabat menggali parit sebagai pertahanan menghadapi musuh dalam perang Khandaq, Romawi akan ditaklukkan, sebaik-baik panglima dan tentara yang menaklukkannya. Dan terbukti Impian Nubuwwah itupun diejawantahkan oleh pemuda yang berumur 17 tahun yang bernama Muhammad Al-Fatih.

Pada hari ini, adalah Era kemandirian dakwah, (bukan berarti tanpa ada pertolongan dari Allah), Representasi dari dakwahnya Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, Era di mana dakwah menjelma dalam bentuk negara, Sesungguhnya (surat itu) dari Sulaiman yang isinya “dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Janganlah engkau berlaku sombong datanglah kepadaku sebagai orang yang berserah diri. (An-Naml: 30-31), ini adalah tarbiyah Al Qur’an kepada kita bahwa, dakwah itu harus berorientasi kekuasaan, karena fungsi esensial negara dalam Islam adalah sebagai hirosatud din (menjaga Agama) dan siyasatud dunya (mengelola Bumi).

Kita pada hari ini harus merubah atau mentransformasikan mindset kita agar jangan berlama-lama berdakwah, pada fase Nabi Musa ‘alaihissalam dengan Fir’aun, “Pergilah kamu berdua (Musa dan Harun) kepada Fir’aun karena dia benar-benar telah melampaui batas. Maka bicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”. (Thaha: 43-44), hal demikian adalah gambaran dakwahnya orang tertindas karena kezhaliman nyata para penguasa. Kita hari ini bukan dalam kondisi tertindas, kita adalah orang yang merdeka berpendapat, demokrasi menjanjikan itu. Maka hal yang paling mungkin kita lakukan adalah membersamai Era demokrasi ini sebagai langkah awal dakwah menjelma sebagai sebuah negara.

Maka Negara adalah manifestasi dari doktrin agama atau ideologi yang berkembang, kita melihat tidak satu pun dari negara adi daya berideologi sosialis seperti Rusia dan Kapitalis seperti Amerika melainkan telah terjangkiti kanker yang mematikan dalam tubuh negara itu, maka tidak ada lagi alternatif yang paling mungkin untuk menggantikannya yaitu Al-Islam, tinggal bagaimana kita sebagai salah satu dari sekian batu bata kebangkitan itu untuk melakukan reformasi paradigma agar dakwah tampil lebih elegan dan diminati oleh semua golongan yang bukan hanya Muslim akan tetapi orang-orang non Muslin pun merasakan keberkahan di bawah panji pemerintah Islam.

Suatu hari kita akan melihat para pemimpin-pemimpin Islam akan menuliskan surat-surat dakwah kepada seluruh pemimpin Dunia sekalipun kepada negara adi daya, “dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, janganlah berlaku sombong, datanglah kepadaku dalam keadaan berserah diri (Muslim)”. Wallahu A’lam bish Shawab.

Tak Kenal Mesir & Palestina, Ahok Ngawur Sebut Vatikan yang Pertama Akui Kemerdekaan RI

Written By Harmoko, A.Md on Sabtu, 16 Maret 2013 | 07.48

Kemerdekaan RI-atas dukungan Ikhwan, Mesir menjadi negara pertama mengakui kemerdekaan RI-Hasan Al Banna & St Syahrir-jpeg.image

Atas dukungan Ikhwanul Muslimin lewat pemimpinnya, Hasan Al Banna, Mesir menjadi negara yang pertama mengakui kemerdekaan RI, namun setahun sebelum kemerdekaan, Palestina memberikan dukungannya terlebih dulu. Tampak dalam foto Sutan Syahrir & Hasan Al Banna, pendiri & pemimpin pertama Ikhwanul Muslimin Mesir



JAKARTA (SALAM-ONLINE): Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) boleh dibilang melakukan blunder jika tak ingin dikatakan ngawur.

Entah buku sejarah Indonesia versi mana yang dibacanya. Pasalnya, usai bertemu dengan Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Antonio Guido Filipazzi, Jumat (15/3/2013), Ahok mengatakan bahwa Vatikan adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Ketika itu Ahok menjawab pertanyaan wartawan, apakah ada pembahasan kerja sama dalam kunjungan Dubes Vatikan itu ke Balaikota?

“Tidak ada. Tadi dikasih kenang-kenangan medali Paus, tapi cetakan lama, belum ada cetakan baru. Dikasih buku sejarah Paus keuskupan dari 1947. Kan Vatikan itu negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia,” jawab Ahok.

Benarkah Vatikan adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia? Tentu saja untuk menjawabnya mudah sekali, cukup membuka literatur sejarah.

Nah, berdasarkan penelusuran literatur sejarah, negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia adalah Mesir, bukan Vatikan.

Mesir secara de facto mengakui kemerdekaan RI pada 22 Maret 1946, disusul oleh Liga Arab (Arab Saudi, Qatar, dan lain-lain) pada 18 November 1946. Setelah itu diikuti Suriah pada 3 Juli 1947, Lebanon dan Irak pada 9 Juli 1947.

Pengakuan kemerdekaan RI secara de facto oleh Mesir pada 22 Maret 1946 itu dilakukan dengan mengakhiri kepengurusan WNI dari kedutaan Belanda di Mesir.

Bahkan, pada tanggal 13 hingga 16 Maret 1947, Konsul Jenderal Mesir untuk India (di Mumbay) yang bernama Muhammad Abdul Mun’im bersama Muriel Pearson (nama samarannya adalah Ketut Tantri, seorang perempuan Amerika yang pro kemerdekaan sejak masa revolusi), datang ke Yogyakarta (Ibukota RI saat itu).

Pada 15 Maret 1947 bertepatan dengan HUT Mesir ke 23, keduanya menghadap Presiden Soekarno untuk mewakili pemerintah Mesir sekaligus utusan Liga Arab guna menjelaskan posisi dukungan mereka terhadap kedaulatan RI.

Kemerdekaan RI-bahkan Palestina setahun seblmnya sdh mendukung kemerdekaan-Mufti Palestina & KH Agussalim-jpeg.imagePengakuan secara de jure (hukum) oleh Mesir ditandatangani pada 10 Juni 1947, ditandai perjanjian Persahabatan RI-Mesir dan sekaligus mendirikan Kedutaan RI pertama di luar negeri.
Sementara alasan Liga Arab menganjurkan kepada semua negara anggotanya supaya mengakui Indonesia sebagai negara merdeka yang berdaulat karena didasarkan pada ikatan akidah Islamiyah, ukhuwah Islamiyah dan kekeluargaan.

Bahkan yang menarik, justru dukungan Palestina lebih awal setahun sebelum proklamasi. Palestina diwakili oleh Mufti Besarnya, Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini. Pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ dari Syaikh Amin Al-Husaini ke seluruh dunia Islam untuk dukungannya pada kemerdekaan Indonesia.

Sedangkan Vatikan baru mengakui kemerdekaan Indonesia satu bulan setelah pengakuan oleh Mesir tersebut. Yakni, pada 6 Juli 1947 ditandai dengan pembukaan kedutaan yang disebut “Apostolic Delegate” dan menugaskan Georges-Marie-Joseph – Hubert-Ghislain de Jonghe d’Ardoye, M.E.P sebagai Duta Besar Vatikan pertama di Jakarta untuk masa 1947 hingga 1955.

Menyimak literatur tersebut, kiranya pemahaman sejarah Ahok perlu dikoreksi.
Pimpinan Taruna Muslim Alfian Tanjung menambahkan, fakta sejarah menunjukkan negara-negara Muslim yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia.

“Tidak ada dalam sejarahnya Vatikan pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia,” ujar Alfian seperti dikutip itoday, Sabtu (16/3/2013).

Menurut Alfian, dalam sejarah justru Vatikan bekerjasama dengan Belanda untuk menekan pemerintah Indonesia.

“Vatikan mengambil manfaat adanya penjajahan Belanda dengan menyebarkan agama Katolik di Indonesia. Justru Islam yang menjadi ujung tombak perlawanan terhadap penjajah Belanda,” papar Alfian.

Alfian tidak terkejut dengan pernyataan Ahok itu karena ada keinginan yang kuat dari Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut untuk menyebarkan agama katolik di Jakarta.

“Pernyataan itu sangat politis, agar kebijakan Pemprov DKI termasuk kristenisasi mendapat dukungan dari Vatikan,” demikian terang Alfian.

Tentu umat Islam-lah sebagai pemeran utama meraih kemerdekaan ini. Dari desa hingga kota, dari santri dan kiai hingga kaum terpelajar, intelektual, ulama, bersatupadu bersama umat Islam berkuah darah, bermandikan keringat, merebut kemerdekaan republik ini.

Kemerdekaan RI-Hatta & Mufti serta para pemimpin Arab dan dukungan mereka terhadap kemerdekaan RI-jpeg.imageSementara penjajah, khususnya Belanda, tak rela akan kemerdekaan ini. Mereka, sang penjajah Belanda, logis saja berkolaborasi dengan kelompok yang se-ideologi untuk meneruskan penjajahan, sehingga kembali melancarkan agresinya pada 1949, tapi gagal total.

Kelompok dari dalam yang berkomplot dengan penjajah, tentu merasa nyaman jika negeri ini dijajah dengan yang se-ideologi dan sekeyakinan, karena adanya kekhawatiran–saat itu–Indonesia menjadi negara yang berdasarkan IslamDan, menjelang merdeka, benar, Indonesia dipastikan menjadi negara berdasarkan Islam–atau setidaknya mewajibkan para pemeluknya untuk menjalankan syariat Islam–jika saja tidak dikhianati, ditelikung, dikadalin oleh kelompok nasionalis yang bersekongkol dengan kaum minoritas, sehari setelah proklamasi! (inilah/itoday/salam-online)

http://salam-online.com/2013/03/tak-kenal-mesir-palestina-ahok-ngawur-sebut-vatikan-yang-pertama-akui-kemerdekaan-ri.html

Pidato “Konspirasi” Anis Matta Mulai Menuai Hasilnya

Written By Harmoko, A.Md on Kamis, 07 Maret 2013 | 18.49

Black Devil Kompasiana - Gemuruh takbir sontak terdengar memenuhi ruangan kantor DPP PKS di Jalan TB Simatupang, Jakarta, pada Jumat 1 Februari 2013. Anis yang biasanya tampil tenang mendadak bak menjelma menjadi singa podium. Pidatonya menggelegar dan sarat dengan emosi. Menghanyutkan! hingga tak sadar air mata pun berderai turun.

Meski menerima keputusan KPK yang menjerat Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaq, sebagai salah satu tersangka kasus dugaan korupsi impor sapi, namun kalimat sanksi berbalut konspirasi masih terlontar dari Anis Matta.

Malamnya, penulis dihubungi oleh mentor lewat SMS. Mentor bertanya “apa yang bisa penulis ambil dari pidato Anis Matta siang hari tadi, secara khusus penyampaian Anis perihal dugaan adanya konspirasi besar untuk menghancurkan PKS?”.

“Tak tahu, Pak Kiai,” balas penulis singkat. Wajar penulis hanya siswa Aliyyah kelas awal, yang baru belajar menjadi pengamat kampungan. Terlalu jauh bagi otak penulis untuk menganalisa di balik tersuratnya pernyataan Presiden PKS baru, Anis Matta.

HP pun berdering. Mentor menghubungi penulis. Ia mengungkapkan bahwa teori konspirasi yang dilontarkan oleh Anis Matta pada saat pidatonya di kantor DPP PKS siang tadi adalah sinyal kuat bagi para kader PKS agar segera bersatu. Anis memiliki kehendak agar para kader segera berbenah dan melakukan konsolidasi di daerah. Dan sinyal itu diungkapkan secara tersirat dengan “balutan manis” pernyataan “konspirasi”.

Tidak berhenti di sana, mentor meminta penulis untuk menggarisbawahi kebangkitan kedua PKS, yang segera terjadi pasca pidato “konspirasi” Anis Matta.

Kini, apa yang dinyatakan oleh mentor setengah terbukti. Dengan berbalut teori “konspirasi” PKS sanggup mengerem efek negatif dari penetapan Presiden PKS, LHI, sebagai tersangka oleh KPK. Sehingga efek negatif dari masalah korupsi yang tengah membelit PKS tak terasa di daerah-daerah. Setidaknya hingga dua Pilkada terakhir, kandidat yang diusung oleh PKS keluar sebagai pemenang.
Bisa dikatakan bahwa pidato Anas telah menjadi momentum awal bagi kebangkitan PKS. Kader PKS di daerah makin merapatkan barisan. PKS yang sedari awal telah mempunyai kader militan, maka akan bertambah militan dengan pidato konspirasi ala Anis Matta. Hasilnya bisa kita simak bersama pada gelaran dua Pilkada terakhir, yakni Jabar dan Sumut.

Sikap satu-padunya kader PKS menghadapi kasus dugaan korupsi yang membelit partainya, sejatinya telah terlihat pada saat pidato Anis Matta. Pada saat pidato Anis Matta, di belakang Anis terlihat para petinggi PKS berjajar. Hal yang menunjukkan kesatuan sikap dan tak adanya konflik internal sebagai imbas dari kasus LHI.

Berbeda dengan Demokrat. Pada saat Anas menyampaikan pidato “halaman pertama”-nya, nyaris tak terlihat kehadiran para petinggi partai Demokrat. Ini menunjukkan tak adanya kesatuan sikap dan makin memberi bukti adanya fraksi juga konflik internal yang dalam di partai tersebut.

Dengan demikian maka sangat wajar bila PKS kini tengah menuai hasilnya (setidaknya untuk sementara), dan Demokrat terlanda “tsunami” secara intens. Datang bergulung-gulung yang menghempaskan satu-persatu kandidat yang diusung oleh Demokrat di daerah.

Kini, kita tinggal menanti Pileg 2014. Apakah pidato “konspirasi” Anis Matta masih membekas di benak para kader PKS? Menjadi bara yang berubah kobaran api semangat untuk semakin merapatkan barisan hingga “pertempuran” sesungguhnya di 2014 mendatang? Sanggupkah para kader PKS mempertahankan momentum awal bagi kebangkitan kedua PKS? Kita tunggu bersama.
Salam neraka!

Selamat menikmati hidangan.
Ditulis sebagai tanggapan atas kemenangan berturut-turut kandidat PKS dalam dua Pilkada terakhir, Jawa Barat dan Sumatera Utara.

Dua Kekalahan dan Pertaruhan Moral Kader PDIP

PDI Perjuangan (PDIP) ternyata tak cukup mampu merawat tren positif terhadap kemenangan Jokowi di Jakarta. Terbukti setelah kemenangan di Jakarta, PDIP berturut-turut kalah di pilgub Jawa Barat (Jabar) dan Sumatera Utara (Sumut). Saya tidak memasukkan kemenangan kandidat yang didukung PDIP di Sulawesi Selatan, karena tak ada kader PDIP yang maju di sana.

Berbeda di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Dalam pilgub Jabar, PDIP mengusung kadernya sendiri yaitu Rieke Diah Pitaloka yang dipasangkan dengan Teten Masduki. Pasangan ini memperoleh hasil yang cukup cemerlang karena mampu mengalahkan Dede Yusuf yang dalam survey-survey sebelumnya unggul terhadap Rieke. Dalam pilgub Jabar sosok Jokowi juga dimanfaatkan oleh PDIP untuk mendongkrak suara Rieke.

Dalam pilgub Sumut yang berlangsung hari ini, PDIP mengusung Effendi Simbolon sebagai Cagub. Fenomena yang terjadi di Jawa Barat juga muncul di sini. Dalam berbagai rilis quick count Effendi Simbolon mampu memperoleh posisi kedua dalam perolehan suara menggeser Gus Irawan yang dalam survey sebelumnya memperoleh posisi kedua. Jokowi dalam pilgub Sumut juga dihadirkan sebagai juru kampanye Effendi Simbolon.

Dua kekalahan beruntun ini seolah menodai prestasi besar PDIP memenangkan Jokowi di Jakarta. Tak hanya itu, kekalahan ini juga sedikit mempengaruhi ‘daya magis’ Jokowi karena kandidat yang didukungnya tak dapat memenangi kontestasi pilgub. Padahal kemenangan di Jakarta membawa daya dukung moral yang sangat besar kepada kader-simpatisan PDIP di daerah-daerah. Ibarat sebuah mesin, kemenangan PDIP dengan Jokowinya membuat mesin partai menjadi sangat panas, dan siap untuk segera dipacu mengarungi tahun politik ini. Namun kekalahan di dua pilgub ini menurut saya cukup dapat menggoncang kader yang menjadi mesin politik PDIP.

Ditambah lagi pilgub Jawa Tengah (Jateng) yang akan diselenggarakan dalam waktu dekat akan sangat mempengaruhi moral kader PDIP. Seperti yang kita tahu, PDIP memiliki basis massa yang sangat kuat di Jateng. Sehingga PDIP tak punya pilihan lain untuk menjaga moral kader-kadernya selain menang di kandang sendiri. Kekalahan PDIP di Jateng akan menimbulkan pukulan yang besar bagi kader. Selain karena kalah tiga kali berturut-turut, PDIP juga kalah di kandang sendiri.

Bisakah PDIP menjaga suara di kandangnya sendiri? Manuver politik di detik-detik akhir menurut saya membuat PDIP harus bekerja keras karena ketiga pasangan kandidat cagub-cawagub Jateng ini sama-sama memiliki warna ‘merah’. Disamping Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko yang diusung PDIP, Bibit Waluyo (petahana), dan Don Murdono (cawagub dari Hadi Prabowo), sama-sama memiliki masa lalu di PDIP. Apalagi tidak dimajukannya Rustriningsih yang sebelumnya dijagokan akan diusung PDIP memiliki efek tersendiri bagi pemilih PDIP di Jateng. Selain itu, hadirnya Hadi Prabowo-Don Murdono akan menguntungkan petahana Bibit Waluyo karena dapat memecah suara pemilih yang tidak menyukai Bibit Waluyo.

Pilgub Jateng akan menjadi pertaruhan yang sangat besar bagi PDIP untuk menjaga semangat dan moral para kadernya menghadapi 2014. Tiga kali kekalahan dan kalah di kandang sendiri akan sangat memukul mental kader. Jika dibandingkan dengan partai lain, sebenarnya hal ini juga melanda dua partai besar Demokrat dan Golkar. Calon yang diusung dua partai ini juga menderita kekalahan. Hanya PKS saja untuk saat ini yang memiliki tren positif. Setelah menerima pukulan telak, kader PKS mampu diobati dengan dua kemenangan beruntun di Jabar dan Sumut.

Biar waktu yang menjawab, apakah PDIP mampu membangkitkan moral kadernya, atau malah akan menerima pukulan yang sangat telak di kandang sendiri.

Catatan Kecil Serpihan Aktivis Kampus

Written By Harmoko, A.Md on Kamis, 03 Januari 2013 | 19.19

Foto Saat berstatus Mahasiswa Tahun 2008
Kampus adalah dunia mimpi, sedangkan yang saya hadapi sekarang adala dunia nyata. Maka tentu beda cara kita merespon segala sesuatunya.

Kalau dulu jadi mahasiswa paling lama itu membanggakan apalagi dengan label aktivis,tapi sekarang itu memalukan. Sudah gak jamannya,sekarang sudah abad 21.

Terlalu lama di kampus hanya jadi aktivis-aktivisan, pembuktian sebenarnya adalah ketika terjun langsung masyarakat semuanya butuh aksi tak berlaku banyak teori. Jadi penontonkah, ikut luntang lantung tidak jelaskah atau jadi apakah anda? Di masyarakatlah pembuktiannya.

Dari sekian banyak aktivis kampus yang kami temui, mayoritas melempem setelah wisudah. Karena pada BINGUNG. alah aktivis kok bingung.

Hanya sebagian kecil yang bertahan dan tetap mengorbit di garis edar...sisanya hilang dari peredaran. Yang wanita ikut suami krn memang sudah kewajiban sedangkan yang pria sibuk ngurus ma'isyah (pekerjaan).

Yang paling parah ketika para wanita terpaksa menanggalkan jilbabnya karena alasan agar tak sulit bekerja. Padahal sudah gak jamannya lagi buka tutup.

     

Ikhtiar Cinta

Written By Harmoko, A.Md on Jumat, 21 Desember 2012 | 23.45

Jika jodoh tidak juga hadir di tempat sekarang, cobalah hijrah ke tempat lain. Mungkin saja ia sedang menunggu. Atau jika jodoh tak juah tertambat ke hati makhluk yang dekat denganmu sekarang. maka cobalah hijrah ke hati yang lain.

Hijrah, jangan tutup dirimu dan hatimu dari pria/wanita lain yang mungkin saja ada di antara mereka jodohmu.

Niat ingin menikah, jangan menjadikan dirimu pengumbar cinta. yang cintanya tertawan ke sana kemari tapi tak jua tertambat dalam ikatan suci.

Ingat Allah pernah berpesan : Sesuatu yang baik bagimu, belum tentu baik bagi-Nya. dan Sesuatu yang jelek bagimu padahal baik menurut-Nya.  

Ingat, janganlah kau paksakan cinta bersemi bukan pada tempatnya, sebab hal itu namanya pemaksaan, cinta dan jodoh tak bisa dipaksakan. Maka mana mungkin kau berkata : "Aku hanya menginginkan dirimu".

Pernikahan adalah ikatan suci, maka sewajarnya jika ditambatkan dengan cara yang benar dan halal bukan dengan SOGOKAN.

Wahai wanita, menyerahkan semuanya kepada pria yang belum halal bagimu tak bedanya dengan sogokan.

Pernikahan itu ikatan suci, yang aqadnya mampu menggoncangkan 'arasy. Jangan sampai menikah menjadi terpaksa karena halim duluan (maaf), bukan karena sama-sama ridho dan ikhlas untuk mencapai suatu tujuan dalam mahligai bahtera rumah tangga bahagia (dunia-akhirat).    

Nikah Sirri, Sah atau Tidak ?

Written By Harmoko, A.Md on Selasa, 18 Desember 2012 | 20.46

Agama mengikuti aturan negara atau negara yang mengikuti aturan agama ?

Penggalan kalimat pak Eggy Sudjana yang saya tangkap semalam bahwa : Negaralah yang mengikuti aturan agama karena Indonesia adalah negara yang berke-Tuhanan Yang Maha Esa (Sila kesatu Pancasila).

Maka sepatutnya, derajat pernikahan yang sirri atau pun tidak statusnya sama di mata hukum. (Farhat Abbas)

Di sisi lain, anak yang dihasilkan dari perzinahan yang tak diakui perkara nasab-nya oleh agama, justru disahkan oleh negara. Terbalik.

Padahal aturan agama Jelas, anak hasil perzinahan memutuskan Nasab-nya.

Sepatutnya saja, ketika ada saksi, ada wali dan ada mempelai, kedudukan hukumnya sudah bisa sama (seharusnya).

Hemat saya, nangkap orang maling tidak harus ada pernyataan dari pelaku maling bahwa dia maling. 

Jadi, apa salahnya jika pernikahan sirri pun ber status hukum sama dengan yang tidak sirri. 

Kalau pencatatan pernikahan hanya sebagai fungsi pendataan warga negara, yah fine-fine saja tidak jadi soal. tapi kalau sudah ke masalah status hukum.. itu kebangetan | Pendapat awam saya begini.

Yang paling banyak menyebabkan terjadinya pernikahan sirri adalah karena "poligami" dipersulit. (K.H.Ali Mustofa)

kesimpulannya, REVISI Undang-undang.   

Anak, Investasi

Written By Harmoko, A.Md on Kamis, 13 Desember 2012 | 19.49

Negeriku
1- Dalam hal pendidikan anak (dahulu) kata "jangan" itu cenderung lebih banyak keluar daripada kata "Iya", padahal pada masanya sang anak sedang belajar berkreatifitas bukan untuk ditakut-takuti, diancam atau dibohongi.

2- Sejak dalam kandungan hingga masa anak-anak sesungguhnya waktu yang sangat tepat untuk membangun sugesti positif bagi mereka. Maka selayaknya calon ayah atau calon ibu tidak cukup jika hanya dibekali dengan ilmu akademisi (sekaliber S1, S2 atau S3) saja tapi juga ilmu menjadi orang tua.

3- Nah, oleh karena itu, semua yang calon ayah dan calon ibu (baik yang sudah menikah atau belum menikah), memiliki pengetahuan menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita kelak adalah wajib hukumnya jika menginginkan generasi yang terbaik nantinya. Jangan sampai ketika anak kita sudah lahir, kita baru mau belajar. Memang tidak ada kata terlambat tapi kalau lebih awal tentu lebih baik, sehingga tidak salah dalam hal pola asuh anak.

4- Boleh percaya boleh tidak, ternyata para orang tua sering kali mengajarkan tindakan asusila kepada anaknya, bukan faktor kesengajaan tapi lantaran ketidaktahuan dan ketidakfahaman orang tua.

5- Bayangkan, jadi apa kelak sang anak jika sejak kecil sudah diajarkan berjoged ala manusia dewasa, atau disuguhkan dengan tontonan televisi yang bagi kita manusia dewasa cenderung meracuni.

6- Anak-anak itu layaknya kertas putih yang bisa ditulis apa saja. Jadi apa kelak mereka bergantung informasi (sugesti) apa yang paling banyak diberikan orang tuanya.

7- Anak-anak adalah investasi dunia dan akhirat, salah mendidiknya menyebabkan orang tua rugi dunia dan akhirat.

8- Maka dari itu, kita (para orang tua dan calon orang tua) harus sebaik mungkin terus belajar mempersiapkan diri dengan bekal ilmu dan pengetahuan bagaimana menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kelas, bukan sekedar menjadi istri atau suami yang baik.

9- Banyak bertanya, membaca buku, majalah, pelatihan atau seminar tentang parenting merupakan salah satu cara menambah pengetahuan tentang pola asuh anak.

10- Karena anak adalah investasi dunia dan akhirat kita, maka pantaslah jika episode ini bukanlah menjadi episode sembarangan.

11- Karena episode mendidik anak bukan episode sembarangan maka tidak boleh diabaikan dan kita semua harus memiliki keahlian tentangnya.

12- Tuhan bahkan menitip 1 surat khusus tentang mendidik anak (QS.Luqman), ini mengindikasikan betapa pentingnya anak.

13-  Ingat, masalah anak-anak bukan masalah sepeleh dan bukan masalah orang tua kita saja, tetapi masalah kita, karena kita semua adalah orang tua dan calon orang tua. 

Jawaban Pernyataan Zuhairi Misrawi tentang Hasan Al Banna

Written By Harmoko, A.Md on Kamis, 28 Juni 2012 | 15.46


http://taufiqsuryo.files.wordpress.com/2010/09/hasan-al-banna.jpg?w=593

Islamedia - Pernyataan Zuhairi Misrawi yang menyebutkan bahwa Hasan Al Banna Cuma Ustadz Sekelas Tahlilan mendapatkan repon yang beragam dari para pembaca Islamedia, berikut  ini adalah tanggapan dari Ahmad Rofiqi salah seorang aktivis dakwah:

Bagi para alumni Timur Tengah dan sarjana Islam secara umum, tak bisa dielakkan bahwa perpustakaan dan pemikiran dunia Islam hari ini berhutang besar kepada Ikhwanul Muslimin. Sangat naif kalau menyebut Ikhwanul Muslimin hanya Ust Hasan al Banna dan Sayyid Quthub.

Ada ribuan buku dan pemikir dunia yang dilahirkan oleh Ikhwan sejak pertama kali didirikan oleh Ust al Banna. Untuk yg mudah disebut: Dr al Ghazali, Sayyid Sabiq, Dr Abdullah Azzam (pakar ushul fiqih summa cumlaude), Mustafa al Siba'i, Anwar al Jundi, Fathi Yakan, Prof Ali Jum'ah, Said Hawwa, Dr Aqqad, Dr Nasyar dan abad ini dunia Islam melihat pemikir terbesar muslim, pakar fiqih kontemporer tak tertandingi Dr Yusuf al Qardhawi...

Manifesto Marx? Memangnya Karl Marx pernah mempraktekkan apa yang dia tulis? Kalau bukan karena Lenin, Marx sudah tenggelam. Tapi Ust al Banna menghidupkan tulisannya menjadi karya nyata, merubah tulisannya menjadi gerakan dengan perubahan besar di dunia Arab. Kata-katanya menjelma menjadi beribu-ribu jundi yang langsung dibina dengan kedua tangannya. Warisan Ust al Banna yang sesungguhnya bukanlah buku. Ust al Banna mewariskan generasi yang kemudian hari menjadi kaum pemimpin yang menumbangkan para tiran dan taghut serta satu-satunya kekuatan dunia yang menggentarkan Yahudi zionis.

Ikhwan bukan hanya gerakan politik seperti yang dituduhkan Misrawi. Buku-buku Ikhwan menampilkan kajian Islam yang sangat komprehensif dalam semua bidang kehidupan dan sangat relevan sebagai pegangan hidup muslim saat ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa buku-buku Ikhwan kini telah menjelma menjadi organisme hidup dalam tubuh para kadernya dalam berbagai bidang: politik, seni, ekonomi, pendidikan, keluarga, psikologi, manajemen organisasi dan gerakan, sains dan seterusnya.

Buku-buku Ikhwan tidak hanya berisi kritikan terhadap ideologi Barat baik yang kiri maupun yang kapitalis, tapi juga memberikan solusi yang tepat bagi kehidupan. Sebut saja pemikiran ekonomi Dr Qardhawi, tidak hanya jadi rujukan kader Ikhwan tapi dibaca diseluruh kampus Islam dan jadi rujukan ekonomi dunia Islam hari ini.

Ketika hari ini masih ada gerakan Islam yang hanya terpaku pada gerakan politik atau senjata saja, tanpa memberikan sumbangan berarti pada dunia ilmu, Ikhwan yang didirikan oleh Imam Syahid Hasan al Banna sudah mengisi penuh rak perpustakaan dunia Islam dengan sumbangan yang tak bernilai. Butakah Misrawi dengan fakta ini? Bahkan di dunia Islam, belum ada satu organisasi Islam pun yang sanggup menandingi karya Ikhwan dalam dunia ilmu dan pemikiran. Sampai sekarang, para pemikir, ulama, saintis dari kader-kader Ikhwan diseluruh penjuru dunia belum berhenti berkarya. Sekali lagi, kemanakah matamu, hai Misrawi?

Itulah dia celotehan aktivis JIL. Kerjaan paling pintar yang dia lakukan adalah manipulasi. Jangankan Ikhwan dan pendirinya, al Qur'an sebagai firman Allah aja diplintir dan dianggap palsu. Jadi, tak usah heran dengan ungkapan mereka yang berakhir justru semakin nampak jelasnya kerancuan kaum ini.

Wassalam,
Ahmad Rofiqi

Inilah Isi Pidato KH Hasyim Muzadi yang Menghebohkan Itu

Written By Harmoko, A.Md on Selasa, 05 Juni 2012 | 07.46

Bersama-Dakwah : Baru-baru ini beredar pidato menghebohkan dari mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi melalui pesan berantai BlackBerry Messenger (BBM) dan media sosial.

Bagi umat Muslim yang komitmen dengan syariat Islam, pidato Hasyim Muzadi itu adalah pidato yang brilian dan patut mendapat acungan jempol. Namun, bagi kalangan liberal dan pihak-pihak yang “memusuhi” Islam, pidato itu dianggap “radikal.”

Seperti apa pidato yang menghebohkan itu? Berikut isi pidato Hasyim Muzadi yang juga Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) dan Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) tentang tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia oleh Sidang PBB di Jeneva :

"Selaku Presiden WCRP dan Sekjen ICIS, saya sangat menyayangkan tuduhan INTOLERANSI agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti karena laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yang setoleran Indonesia.

Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah AHMADIYAH, memang karena Ahmadiyah menyimpang dari pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam.

Kalau yang jadi ukuran adalah GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali ke sana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Yasmin menjadi masalah nasional & dunia untuk kepentingan lain daripada masalahnya selesai.

Kalau ukurannya PENDIRIAN GEREJA, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu melakukan mediasi.

Kalau ukurannya LADY GAGA & IRSHAD MANJI, bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yang ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan Intelektualisme Kosong ?

Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua kenapa TNI / Polri / Imam Masjid berguguran tidak ada yang bicara HAM? Indonesia lebih baik toleransinya dari Swiss yang sampai sekarang tidak memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dari Perancis yang masih mempersoalkan Jilbab, lebih baik dari Denmark, Swedia dan Norwegia, yang tidak menghormati agama, karena di sana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yang memperkenankan perkawinan sejenis ?!

Akhirnya kembali kepada bangsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yang harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM yang benar (humanisme) dan mana yang sekedar Weternisme".
[JJ/Trb/yi]

Ini tentang cinta dan budaya sampah, bangga dengan yang mulus dan tulus.

Written By Harmoko, A.Md on Minggu, 27 Mei 2012 | 02.07

Mendengar nama sampah, pikiran kita tentu akan tertuju kepada kotoran, sisa atau barang bekas walaupun ada barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan. Memanfaatkan sampah adalah kerajinan dan kreatifitas sebagai bukti kecintaan kepada lingkungan dan alam semesta. Lain halnya dengan budaya sampah, budaya sampah adalah budaya yang sama sekali tidak layak dijadikan budaya walau budaya sendiri memiliki konotasi positif sebagai suatu seni  yaitu ke-Indahan sebagai hasil cipta, rasa dan karya manusia.

Sepertinya juga beragama, beragama pun juga berbudaya karena agama adalah bagian dari budaya, maka membudayakan agama adalah bagian dari seni hidup, seni menata hidup, seni memaknai hidup dan seni mehami hidup. Beragama memiliki makna lain yaitu menata, mengatur dan beretika meskipun yang beragama ada yang tidak teratur dan tidak beretika, tetapi sejatinya beragama adalah berbudaya dengan budaya baik.

Sampah bagi sebagian belum tentu sampah bagi sebagian yang lain, sebab sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan tidak dapat disebut sampah. Pun juga erotisme dan penghinaan terhadap ajaran lain adalah budaya sampah bagi manusia Indonesia, meskipun bangsa-bangsa lain menyebutnya sebagai seni dan kebebasan berbudaya.

Sampah adalah barang bekas yang tidak layak pakai, Manusia sebagai makluk yang dikarunia akal dan segala potensi yang dimilikinya, tentu dapat memilah-milah mana yang layak dipakai dan mana yang layak di buang ke tempat sampah. Bagaimanapun bagusnya label sebuah produk manakala tidak layak atau tidak cocok dipakai oleh manusia makhluk berbudaya ini, maka itulah sampah.

Sampah tidak lagi membedakan produk dan label, sebab jika sudah berada di tempat sampah, nilainya pun menjadi sama kecuali jika mengalami daur ulang.

Ketika publik Internasional berlomba-lomba meracuni fikir manusia Indonesia dengan barang-barang sampah yang dari negerinya sendiri manusianya bosan, manusia Indonesia berlomba-lomba mengimpornya dengan memberi label mewah walau tanpa melewati standarisasi SNI yang dalam bahasa vulgarnya sensor.

Indonesia itu jika diibarat wanita, ia adalah wanita tercantik, mulus juga tulus. Cantik karena menjadi rebutan dan pasar yang paling ramai, mulus karena sebagian besar bentang alamnya menganga bisa dijama dari wilayah mana saja, dan tulus karena walau bagaimanapun menjamur budaya dan bahasa tetap berada dalam bingkai negeri nusantara yang belum bisa ditiru oleh bangsa-bangsa lain. Kalau dunia mau jujur, maka satu-satunya negeri yang tidak pernah membagi manusianya ke dalam kelas-kelas hitam dan putih, itu adalah Indonesia.

Boleh Saja...

Written By Harmoko, A.Md on Jumat, 18 Mei 2012 | 07.11

Jalan kita boleh saja berbeda, tapi tujuan kita sama. Ketika hati kita berpaut maka ukhuwah adalah peneguhnya. Takdir telah mengisahkan kita dalam kisah-kisah suka walaupun kita pernah tercelup dalam duka lara tapi ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil hikmahnya. Sahabat mantapkan hati di jalan yang sudah kita ambil sebab kita tak pernah membayangkan ia bertabur bunga di kanan kiri namun ada duri-duri kecil untuk kita mawas diri. Lebih baik kita mencoba dan gagal daripada kita gagal mencoba.
Janganlah takut membat keputusan karena tidak ada keputusan yang salah sedangkan yang salah adalah tidak mengambil keputusan.

Suatu saat

Written By Harmoko, A.Md on Minggu, 13 Mei 2012 | 22.53


Boleh jadi suatu saat kamu akan kehilangan hartamu, kendaraanmu, istri-istrimu, anak-anakmu, keluargamu bahkan kehidupanmu sekalipun. Semuanya adalah titipan bukan milikmu seutuhnya, sehingga pantas jika kamu berserah diri total kepada yang menitipkannya. Semua di tangan manusia hanyalah fana, maka menggantungkannya di tempat yang tertinggi sungguhlah bijak karena dengan model itu pulalah manusia akan mendapati posisinya sebagai manusia seutuhnya berserah diri dan selamat.

Lapang dan Sempit, Mudah dan Susah hanyalah massa bukan masalah sebab kesemuanya akan saling bergantian, terkadang kita berada di atas tapi terkadang pula kita harus terpuruk di bawah. Sebuah harga yang pantas bagi pelajaran hidup ini, maka bagi yang menempatkan kehidupannya pada Dia Yang Maha Tinggi, semuanya bukanlah apa-apa sebab syurga memang sejatinya harus dibayar dengan perjuangan bukan menunggu dengan tiba-tiba.

Barangkali untuk ukuran manusia sederhana, memang terasa sangat berat berlaku ikhlas walau ikhlas sangat sederhana diucapkan, inilah pelajaran. Manusia mana yang mampu bertahan dalam beratnya medan maka merekalah manusia yang unggul dan layak menyangdang predikat menang.

Kamu boleh saja kehilangan manusia tapi kamu jangan pernah kehilangan Allah. Sebab Allah tak bisa tergantikan.


Facebook

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Catatanku - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger